Tahukah Anda Film bergenre horor The Ring? tahukah pula Anda bahwa film itu diangkat berdasarkan sebuah kisah nyata? Ya... The Ring yang mengisahkan arwah penasaran Sadako yang kerap kali menampakkan dirinya keluar dari sebuah sumur tua, ternyata benar-benar terjadi pada pertengahan tahun 1988....Berikut saya mendapat posting dari kawan saya yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya di Jepang...
Pada tahun 1987 memang telah ditemukan mayat seorang gadis muda belasan tahun di dalam sumur tua di tengah pemukiman penduduk di desa Teitan.Pihak berwajib setempat tak pernah menemukan sebab kematian gadis tersebut, yang dapat diketahui hanya bahwa gadis tersebut tinggal bersama neneknya di pinggiran desa Teitan. Sang nenek yang mengetahui cucu satu-satunya telah tewas hanya mampu memberi keterangan bahwa sang cucu memang telah menghilang dari rumah sejak dua hari sebelumnya. Tak ada keterangan lain mengenai kematian gadis tersebut. Akhirnya, pihak berwajib setempat menutup kasus tersebut karena setelah dilacak selama lima bulan tidak ditemukansedikitpun titik terang.
Pada pertengahan tahun 1988, muncullah berita yang menggegerkan kampong Teitan. Beberapa orang kerap melihat penempakan arwah Sadako yang tengah berdiri terdiam di pinggir sumur tua tempat mayatnya ditemukan.....kejadian itu lantas membuat kampung Teitan menjadi mencekam. Tiap senja beranjak gelap.....warga kampung Teitan langsung menutup pintu rumah mereka rapat-rapat. Para pekerja yang biasa pulang hingga tengah malam, kini memilih pulang lebih awal. Penampakan arwah Sadako biasamya munculsetelah lonceng di kuil kampung tersebut berbunyi dua kali yang menandakan telahtengah malam.... Nah...yang seru...adalah cerita dari kawan saya yang di posting lewatemail dua hari lalu... Kawan saya mendengar kisah ini dari pak Watanabe, ayah temannya.
Tahun 1988, Pak Watanabe yang saat itu baru mulai bekerja pada sebuah perusahaan jasa, pulang larut malam. Pak Watanabe pulang bersama tiga orang temannya, berikut kisah yang dituturkan Pak Watanabe :Saat itu kukira sudah hampir pukul satu dini hari....aku bersama dua orang temanku pulang berjalan kaki karena tak ada lagi kandaraan pengangkut penumpang. Aku agak mabuk malam itu karena habis minum-minum dengan kedua temanku sepulang menjamu klien kami. Kami melewati kampong Teitan.....tempat dimana sering terlihat penampakan arwah Sadako.Kami sama sekali lupa bahwa pada pertengahan tahun itu sedang gempar-gemparnya pembicaraan orang-orang mengenai penampakan arwah Sadako.Ketika tiba saatnya langkah kami menyusuri tengah kampung.....tampaklah oleh kami sumur tua yang kerap dibicarakan orang karena arwah penasaran gadis muda tersebut. Kami seketika terkesiap manakala langkah kami semakin mendekati sumur tersebut.
Saat itu lonceng di kuil kampung berdentang.....hal yang biasa menandakan kemunculan arwah penasaran Sadako. Langkah kami terasa makin berat,dicekam ketakutan yang amat sangat....Tiba-tiba..... Kami mendengar suara air beriak dari dalam sumur.... Kami membeku seketika....tak sanggup meneruskan langkah..... Sekonyong-konyong....kami melihat kemunculan sebentuk kepala dengan rambut panjang hitam dari dalam sumur........semakin lama semakin beranjak naik....aku menahan nafas demi melihat pemandangan itu.... Kedua temanku menggigil ketakutan......kemudian tampaklah oleh kami seutuhnya wujud arwah tersebut..... Seorang gadis dengan wajah amat pucat....berambut hitam panjang dengan diselubungi kain putih berlumuran merah darah.......darah yang banyak.....darah yang nampaknya masih segar seperti baru saja melumuri kain putih itu.... Gadis itu dengan wajah pucatnya memandang kearah
kami.....Tuhan...rasanya lebih baik bumi langsung menelan kami saja saat itu....Aku membeku....kurasakan seluruh bagian tubuhku membatu tak dapat kugerakkan.....kedua temanku juga dalam kondisi yang sama.....lebih parahtemanku Nobuki, dia mengidap asma.....nafasnya tersengal-sengal karena rasatakut yang mencekam..... Aku tak ingat berapa lama arwah gadis itu berdiri menampakkan dirinya....yang pasti kurasakan saat itu waktu seperti berhenti......Lalu kemudian.....gadis itu melayang......beberapa saat melihat kearah kami......dengan wajah pucat pasi tanpa sedikitpun ekspresi....lalu gadis itu kembali memasuki sumur tua..... Aku masih mematung....kedua temanku masih pias karena kejadian tersebut.....namun....kami mendengar suara air di sumur tua beriak kencang...seolah ada gelombang di dalamnya..... Belum hilang rasa takut luar biasa kami.....tiba-tiba.....Arwah itu muncul kembali.......!!! Dengan menampakkan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya......arwah tersebut kembali muncul.......rambutnya hitam panjang.....tubuhnya
berselubung kain putih.....namun.....kain putih itu tak lagi berlumuran darah....darah segar seperti pada penampakkan yang pertama...... Kain yang menyelubungi tubuh arwah itu kini putih bersih......namun semakin menampakkan wajah pucatnya...... Lalu....arwah tersebut melayang...... Menuju kearah kami........ Rasanya lama sekali.......namun semakin pasti arwah itu menuju kearah kami..... Kedua temanku beringsut kebelakang tubuhku..... Nobuki semakin menderita karena asma yang semakin menyiksanya...... Perlahan ....arwah tersebut mendekati kami.....hawa dingin yang luar biasa menyergap .....menggigit kulitku....menusuk hingga ke tulang-tulangku... Arwah gadis itu melayang-layang diatas kami......tak dapat kulukiskan mencekam suasana saat itu.....yang ada di pikiranku bahwa ia akan memakan kami.....atau mencekik leher kami.....atau menarik kami ke dalam sumur tua bersamanya.....dia masih melayang di atas kami...... Tiba-tiba..... Dia mengahampiriku....!!!! perlahan turun menuju kearahku......
Tuhan.....selamatkan aku..... Dia benar-benar dihadapanku....benar-benar di depan wajahku....!!! Dengan tatapan kosong dan wajah dinginnya.... dia menghembuskan hawayang luar biasa dingin.....tubuhku membeku.....tak sanggup bergerak...tak sanggupbersuara...bahkan nyaris tak sanggup bernafas..... Lalu....dengan suara yang nyaris membuat jantungku lepas.....dia menggumamkan bibirnya....dan aku sempat mendengar kata-kata yang keluar dari kerongkongannya yang tampak kering itu.....aku dengar diamengucap...... Rinso Memang Hebat Yaakkkk....!!!!!!!! Lihat neh bajuku yang tadi kotor jadi putih bersih lagi.....!!!!
Dear Kasihku,,
Banyak yg hilang setelah kau pergi,,
dan aku sadari aku tak bisa mencintaimu seperti dulu lg...
Jarak dan waktu yg cukup membuatku sadar bahwa semua telah berubah,, begitupun hati..
Salahkan bila aku ingin mewujudkan sebagian mimpiku? sebagian angan dan harapanku?
Aku memang tak kuasa mengubah takdir,, tp salahkan jika harapan itu masih ada??
Aku yg sendiri....
tanpa seorang yg dapat menenangkan hatiku,, beginilah aku...
Aku tanpamu...

Ya Allah, terimakasih...
aku dapet IPK 3.71 (Lumayan besar lah...) semua orang bangga, keluarga, teman.. tp ... masih kurang...
aku ingin ucapan selamat itu datang dari mulut orang yg sangat aku cintai.. (cowo aku)...
aku sudah tepati janji utk kuliah.. aku ingin dia bangga sama aku..
kuliah dan kerja.. itu lumayan berat.. kerja pagi sampai sore.. langsung ke kampus.. itu rutinitasku sehari2..
pulang dari kampus paling cepet jam 10 malem.. besoknya kerja lagi... benar2 hal yg sangat melelahkan..
tp aku selalu bertahan.. dengan harapan "Aku bisa membuatnya bangga kepadaku"
Tapi yg terjadi justru sebaliknya.. saat aku laporan mengenai IPK ku..
saat itu aku berharap... ia akan senang.. dan tentunya bangga.. tp dia bilang "baru dpt IPK segitu dah sombong, payah"
Tau ga sedih & sakitnya hati aku seperti apa? ga bisa terbayangkan,... dengan aku yg kerja.. kuliah.. aku rasa sangat memuaskan mendapatkan IPK segitu.. karena kufikir.. sulit...
Sabar... dan Sabar... itu yg selalu aku lakukan.. aku ga mau emosi.. aku ambil air wudhu untuk menenangkan fikiran aku.. dan aku bisa menerimanya dengan sangat bijaksana... aku tak pernah marah... hanya mungkin ada rasa kecewa yg timbul akibatnya...
Ya Allah... aku percaya... dia seperti itu karena dia ga ingin aku puas di semester 1 ini... aku yakin dia pasti ingin aku lebih dari ini.. dia percaya aku bisa... ya.. mungkin itulah... dia ingin aku sukses...
Ya Allah.. selalu kuatkanlah diriku.... Amiiinn....



Bagi yg sudah pernah baca, luangkan waktu untuk baca sekali lagiIni adalah cerita sebenarnya ( diceritakan oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang )
Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka,tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama .
Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata :"Mari,kita jemput nenek di kampung".
Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku.Dan dia akhirnya berkata:"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.
Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua.Aku mena hanny a sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh……suamiku segera mengejarnya keluar rumah.
Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?
Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?
Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.
Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku,jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.
Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika............dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.
Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.
Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.
Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi.........., semua berlalu begitu saja.
Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.
"Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya:""Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya"".Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.
Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya.""Lu Di, kamu hamil?"" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab:""Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi"".Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali."Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:"Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.
Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.
kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........, itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?
Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.
Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras.. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?
Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.
Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya………aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.
Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…………Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah."""Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai"".
Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku.""Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya""."
Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya".Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum..............anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata....................
Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
sebab andai itu terjadi
walaupun terasa indah
sebab andai itu terjadi
repeat reff
sebab andai itu terjadi
.jpg)
.jpg)



.jpg)









.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)