Sungguh, Anakku. Demi kebaikan kita berdua, dan demi rasa sayangku padamu, maka sebaiknya kau pergi. Kau bisa kutitipan pada pamanmu, bibimu, atau famili lainnya, tapi kurasa tidak denganku. Kutegaskan lagi: tidak denganku!
Bukannya aku tidak menyangimu, Anakku. Sungguh, berniat mengusirmu saja sudah menyayat perih hatiku. Bukan pula karena aku tidak sanggup menghidupimu. Gajiku sebagai tukang ketik sudah lebih dari cukup untuk kita berdua, Anakku, Mengertilah, Anakku, karena besarnya rasa sayangku padamu, maka kau memang harus pergi. Demi aku. Demi kamu. Dan demi rasa sayangku padamu.
"Mengertilah Anakku! Mengertilah betapa besar rasa sayangku padamu!"
|2|
Hari itu berita itu datang. Berita tentang kematian mantan suamiku yang seharusnya membuatku terbahak girang. Jelas aku benci dia—meskipun kuakui aku masih sedikit menyimpan rindu padanya! Semena-mena dia membuntingiku. Semena-mena pula dia menceraikanku. Padahal saat menikahinya, usiaku sama sekali belum genap tujuh belas. Lantas dengan entengnya dia menghakimiku sebagai istri pemabuk, istri penjudi, istri yang cuma bisa marah-marah tiap kali dia pulang kerja, dan—yang paling tidak bisa kuterima—istri yang tidak baik buat anak yang kulahirkan dari rahimku sendiri. Apa haknya memisahkanku dengan putraku satu-satunya? Bahkan sebelum dia bisa mengenalku sabagi ibunya! Sungguh, seharusnya aku mensyukuri penyakit jantung yang mencabut nyawanya, sekalipun masih ada sedikit rindu di kurasa. Tapi nyatanya, aku tidak bisa tertawa, tidak pula menangis.
Di hari yang sama pula aku mendapat kabar tentang anakku yang akhirnya kembali padaku. Tidak ada satupun famili dari bapaknya yang mau menampungnya, maka akulah yang ditimpahkan kuasa. Karena itu, tidak berlebihan rasanya bila ada sebagian dari diriku bersyukur atas kematian mantan suamiku itu. Sudah enam belas tahun dia memisahkanku dengan satu-satunya buah hatiku. Tidak sekalipun dia memberiku kesempatan bertemu, atau bahkan sekedar menelepon untuk mendengar suaranya. Lebih lagi, dia justru tega menjauhkannya ke tempat yang tidak akan pernah bisa kujangkau bahkan dalam mimpiku sekalipun. Aku pun tidak tahu sama sekali apakah putraku tahu sosok ibunya. Setidaknya aku cukup lega dengan berita ini yang artinya putraku tahu dia punya ibu. Walaupun begitu, aku takut untuk tertawa, begitu pula menangis.
Aku cuma bisa menunggu di sisi stasiun. Aku duduk di bangku tunggu dengan dandanan seadanya: tank top dan jins lusuh. Mungkin sudah sekitar dua jam aku duduk menunggu. Kuperhatikan satu per satu pemuda yang lalu lalang di depanku sambil sesekali kupampangkan karton putih bertuliskan nama anakku. Sudah batang rokok keempat kuhisap habis, tapi belum muncul juga sosok pemuda yang menangkap tulisan yang kupegang. Kuputuskan untuk menyulut rokok ke lima. Ketika itu ada suara lelaki menghampiriku.
“Ibu?”
Aku tergugu melihat sosok pemuda di sampingku. Ukiran wajahnya serupa persis mantan suamiku ketika muda dulu.
|3|
Sore itu aku duduk-duduk di teras dengan putraku. Sebatang rokok kembali tersulut di tangan kananku. Aku tak bisa berhenti menatap bentuk wajahnya yang benar-benar mampu memutar kembali ingatan masa mudaku. Sementara putraku, jelas sekali dia gugup. Sesekali dia membuka novel tebal di tangannya. Beberapa menit kemudian dia menutupnya lalu mencuri-curi pandangan ke arahku. Tidak lama kemudian dia membuka novelnya lagi. Itu yang dilakukannya berulang-ulang. Mungkin dia masih belum terbiasa di dekatku.
“Sejak kapan Ibu merokok?” Dengan lugunya putraku mengajukan pertanyaan pertamanya padaku. Kulihat dia masih canggung berbicara denganku.
Kulempar senyum kecil. “Ibu dulu pecandu wiski, makanya bapakmu pergi. Ibu merokok biar gak mabuk lagi.”
“Ibu di sini cuma tinggal sendiri?”
“Iya.” aku terdiam sejenak. “Ada pembantu, tapi cuma sampai siang.”
Lalu keheningan kembali menyeruak lagi. Aku terus menatapnya sembari membandingkan dengan sosok muda suamiku dalam ingatan. Sedangkan dia terus saja salah tingkah dan tampaknya belum bisa sanai berada di dekatku.
“Sudah punya pacar?” tanyaku dengan suara lirih.
“Belum.” jawabnya dengan suara yang tidak kalah kecil.
“Ganteng, tinggi, bapaknya berduit pula, kok belum punya?”
“Belum ada yang kena.”
“Ooo.” Aku kembali menatapnya lekat. Diam-diam, kucari sosok suamiku di dalam dirinya.
Hari-hari berikutnya dia terasa semakin terbuka padaku. Memang, kulihat dia masih canggung melihat beberapa kebiasaanku: memaki-maki pembantu, mengepulkan asap rokok sebelum sarapan, memakai pakaian seksi, dan selalu uring-uringan. Tapi biarlah kubiarkan dia membiasakan diri dengan kebiasaanku. Dia sempat melempar pertanyaan lucu seputar usiaku. Menurutnya, rupaku tidak seperti layaknya wanita-wanita tiga puluh tahun lainnya. Aku tertawa kecil mendengarnya. Pujian serupa memang sering kudapatkan, terutama dari lelaki-lelaki hidung belang di tempatku bekerja yang selalu kutolak mentah-mentah ajakan makannya. Bedanya, pujian dari putrakku mampu menimbulkan semacam perasaan hangat di dadaku. Kuakui, kedatangannya seakan mampu memantik kembali rona masa mudaku yang rasanya tak mungkin kudapat lagi. Wajar saja, sudah hampir enam belas tahun hidupku tidak disinggahi lelaki.
Hari itu juga kuantar dia mendaftar di SMU terdekat. Di jalan, kusadari mata-mata penggunjing penguasa kompleks mengintaiku dari segala penjuru. Mata-mata itu memang selalu mencari-cari celah keburukanku untuk dibicarakan berjam-jam bahkan berhari-hari. Kurasa, alasan mereka—entah diakui atau tidak—menggunjingkanku murni karena mereka iri denganku. Aku ingat pernah suatu hari kutegaskan pada mereka:
“Badanku ramping karena aku sarapan dengan rokok dan wiski, bukan dengan nasi!” Ketika mendengar jawaban itu, mereka mematung dan bola mata mereka seakan-akan hendak meloncat keluar.
Begitu pula sekarang ini, bisa kupastikan berita bahwa diriku berjalan berdua dengan seorang pemuda tampan tidak dikenal akan tersebar kilat ke penjurut kompleks. Tapi, sungguh, sekarang aku sudah sangat muak dan aku tidak akan peduli lagi dengan mata-mata mereka yang selalu siap mengintaiku.
Malam harinya, ketika putraku sudah tertidur pula di kamar tamu yang sudah disulap jadi kamar pribadinya, aku menghampirinya sejenak. Aku duduk di sisi ranjang. Kututupi tubuhnya dengan selimut. Kutatapi wajahnya sejenak. Lagi-lagi, muncul perasaan hangat yang membangkitkan kembali gairah masa mudaku. Perasan itu mendesir cepat melewati nadi-nadiku. Kubaringkan tubuhku di sampingnya.
|4|
Sudah seminggu berjalan, aku dan putraku pun sudah semakin memahami tabiatku. Kuizinkan dia memanggilku dengan namaku, karena nadanya ketika memanggilku dengan kata “ibu” selalu terdengar canggung. Aku pun semakin memahami beberapa hal tentangnya. Sebenarnya, dia tidak selugu dan sepolos yang terlihat. Terbukti ketika dua hari yang lalu dia mengagetkanku dengan menanyakan izin merokok. Tentu kuizinkan. Aku tidak melihat salahnya. Justru kami berbagi puntung rokok bersama. Kami mengecup bekas bibir masing-masing yang tercetak di filter rokok. Atau ketika dia kudapati tengah diam-diam menyaksikan vidio porno di telepon genggamnya. Wajahnya memerah ketika tertangkap basah. Aku hanya tersenyum kecil melihat bercak basah di celananya.
Namun, semakin aku mengenal putraku, semakin hebat aliran gairah mendesir kembali di sekujur tubuhku. Ketika dia menatapku, yang kurasa bukanlah tatapan seorang anak, melainkan tatapan seorang pemuda. Begitu pula nada biacaranya padaku. Di saat yang bersamaan, kurasakan juga rasa bersalah mengalir sama cepatnya dengan gairah.
Sore ini, kudapati putraku baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya sehelai handuk membalut bagian bawah tubuhnya. Desiran gairah dan rasa bersalah itu pun muncul lagi. Lebih-lebih ketika dia menatapku dengan tatapan lelaki. Tapi aku harus memilih. Kuputuskan untuk memilih.
Aku harus memilih.
“Mengertilah Anakku! Mengertilah betapa besar rasa sayangku padamu!”
Kulihat dia terdiam.
“Kamu harus pergi, Nak.”
Kutundukkan kepalaku. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertingkah sesentimentil ini. Dia mendekatiku. Mendekapku. Menegakkan kepalaku dengan kedua tangannya. Dia melayangkan kecupan hangat di pipiku. Di saat itu juga gairah mendesir semakin kuat mengalahkan rasa bersalahku. Dia melayangkan kecupan lagi di pipiku. Lalu merambat ke bibirku. Kuterima kecupannya. Disaksikan sinar lampu kami pun bercumbu.
Di akhir adegan dia membisikkan kata halus di telingaku:
“Aku cinta Ibu.”
|5|
Sejak saat itu, tidak ada batasan lagi yang terasa dari hubunganku dengan putraku. Berciuman sepulang kerja sudah menjadi rutinitas kami. Bahkan, malam harinya, kami melanjutkan kemesraan di tempat tidur layaknya sepasang kekasih. Ya, kami kekasih, sekalipun tidak ada pengikraran yang resmi. Bahkan, tidak jarang pembantu mendapati kami keluar berdua dari kamar hanya berbalut pakaian dalam. Wajahnya selalu tercengang. Tapi aku tahu dia tidak akan berani komentar macam-macam.
Namun, rasa bersalah ternyata tidak bisa mati begitu saja. Rasa bersalah masih tetap kurasakan menyelinap di bilik-bilik jantungku menunggu waktu yang tepat untuk menikamku. Rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi ketika aku tanpa sengaja mendengar gunjingan-gunjingan tentang hubunganku dengan putraku. Gunjingan-gunjingan itu selalu dibumbui kata-kata tidak sedap tentang diriku. Dan cara mereka menatapku seakan-akan menunjuk bahwa aku seorang makhluk hina dan menjijikkan.
Rasa bersalah telah telak menyerang sisi vitalku pagi tadi. Salah seorang rekan kerja yang sempat tergila-gila padaku melayangkan sebuah kalimat yang membuatku harus melempar tamparan ke pipinya.
“Anakkmu gigolo ya?”
Aku bergegas pulang. Aku tidak bisa menahan tatapan-tatapan yang memandangku rendah. Kalimat itu meyakinkan betapa aku telah merusak anakku sendiri. Kubayangkan ketidakwarasan yang mungkin terjadi bila hubungan tidak sehat ini terus berlanjut. Kubayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa menimpa putraku di masa depan nanti.
Mataku mulai sayup. Botol obat tidur yang sudah kosong menggelinding dari tanganku. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, kubaca kembali surat yang telah kutulis sebelumnya.
“Ini semua kesalahanku, bukan putraku. Aku yang menekannya untuk melakukan semua itu. Aku yang memaksanya.”
Perlahan-lahan cahaya mulai redup dari penglihatanku. Kulakukan semua ini demi menyelamatkanmu, Anakku. Labels: Novel
Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati (sahabat) tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk berterima kasih padanya.
Karena ialah yang membantu mengubah hidupmu
Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Tersenyumlah dengan wajar .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang cinta
Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.
Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.
Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu
Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan
Dan Saat engkau bertemu seseorang yang saat ini menemanimu seumur hidup (suami / istri) kita,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati yang kau cari.
Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu………..????
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda……
Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi………
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak………
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini……
Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang……
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari……mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar………….
Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu………
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu………..????
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita……
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita……
Usia kitapun beranjak perlahan……
Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah……???
Setiap pagi, Bunda selalu memandikan kita,………menyuapi kita………mengantar kita dan menunggui kita……
Bunda begitu sabar mengiringi hari kita di sekolah……
Dan kita hanya bermain ketika itu……
Lalu ketika kita beranjak remaja………
Bundapun tak henti untuk menghawatirkan kita……
Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan……
Bunda hanya menatap dengan penuh cemas……
Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana……
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri………
Sering bunda membelikan kita baju, sepatu, celana baru………
Dengan harapan kita akan merasa senang……
Ingatkah pula apa kata kita ketika itu………..
“Ah….bajunya udah kuno gak mau ah” bunda ‘nggak tau selera anak muda…
dan bunda hanya tersenyum saja……
Saat kita mengenal cinta akan sesama………
Sering kita membohongi bunda hanya untuk bercinta semata……
Dan bundapun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita……
Ketika bunda bilang………”Nak…….mestinya kamu sekolah dulu yang benar….jangan dulu berpacaran….””
Lantas kita hanya menjawab ”bu, saya udah gede, saya tau apa yg baik buat saya, ibu jangan terlalu mengatur saya dong!!”
Bunda hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang…
Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…
Bunda dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit…
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa……
Ketika kita butuh uang utk menuntaskan hasrat cinta muda kita……
Sekali lagi kita sering membohongi bunda……
dengan mengatakan….”bu……saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….seki
Lalu bunda bilang………….”nak…….apa tidak bisa di cicil…??
Kita dengan segera menjawab…..”gak bisa bu….harus sekali bayar……..”
Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak bunda ketika itu……
Jika saja bunda tahu bahwa itu hanyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja…
Dan ternyata bunda selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita.
Pada saat kita lulus kuliah………
Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya bunda mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia bunda ketika itu
Lalu tak lama setelah itu……tiba-taba….
“Bu….sekarang saya sudah dewasa……saya ingin menikahi si anu……….karena saya mencintai dia………boleh kan bu……..?”
Mungkin bunda akan bilang ; ”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah”
Lalu apa jawab kita; ”Bu! kalo ibu percaya, .saya sanggup untuk memberikan makan dia tanpa ibu kasih, saya harap ibu tidak melarang niat saya untuk menikah sekarang, saya sudah dewasa bu, bukan anak kecil yang segalanya harus ibu perhatikan!! !”
Dan demi kasih sayangnya terhadap kita, maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita, sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti.
Tak berapa lama setelah itu, kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda.
Pada saat bunda sudah memasuki hari tuanya, kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya.
Dan bunda tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena bunda pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri.
Bertahun-tahun kita meninggalkan bunda dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia, itupun pada saat Hari Raya saja.
Lalu, ketika Bunda sakit di hari tuanya,
Mungkin bunda mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia.
Tapi, sering kita mengabaikan harapan bunda……
Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu, .maka dengan tanpa ragu lagi kita antarkan bunda pada sebuah panti jompo, kita tinggalkan bunda dengan segala harapannya terhadap kita.
Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia, kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita.
Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa bunda telah tiada.
Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini.
Ada sesal mungkin di sana, .sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita.
Dan kitapun hanya meratapi kepergian bunda, ya bunda yang sudah mencetak kita dengan segenap kasih sayang bunda yang tak terperi ketulusannya, sesal yang tiada guna ketika kita tahu bunda pergi bersama setitik harapan bunda bahwa dia ingin anaknya ada ketika hembusan nafasnya yang terakhir memutuskan kehidupannya.
Dan kita hanya terpekur menatap bekunya batu nisan bertahtakan nama bunda. Itupun jika masih ada secuil nurani kita yang masih berwarna putih.
Kutuliskan ini, untuk mengenang bahwa bunda adalah pembawa syurga buat anaknya, mungkin ini tak semua benar, tapi tak mustahil ini terjadi dan ada di dunia ini.
Bunda, .aku menyayangi bunda seperti aku menyayangi syurgaNYA.
Maafkan anakmu ya bunda.
Peluk cium anakmu selalu.
Pertama baca yg prtma krasa adlh pnyesalan yg luar biasa besar atas smua dosa yg prnah ak lakukan slama ini kpada manusia plg brharga d dunia ini,Ibuku. Utk saat ini bundaku Alhamdulillah msh sehat wal'afiat, smga renungan ini brmanfaat utk siapapun yg membacanya utk sllu mnjdi anak yg brbakti pada org tuanya, smoga rahmat dan hidayahNya sll dipancarkan utk kita smua Amin....
BERLIN - Sekumpulan tiga tukang kayu Jerman yang diketuai Gerhard Mordhorst bersama rakannya, Gesellse Splettstößer dan Manfred Kolax mencipta sebuah rumah terbalik seberat 40 tan dekat sini, lapor sebuah akhbar semalam.
Kediaman unik itu dicipta untuk sebuah zoo tempatan di Gettorf, 308 kilometer dari sini dengan mengandungi sebuah dapur, bilik mandi, bilik tidur dan ruang tamu yang disusun secara terbalik.
Bangunan kayu tersebut mencapai ketinggian lebih tujuh meter dan mengambil masa berbulan-bulan untuk disiapkan sebelum dibuka secara rasmi kepada orang awam pada 30 Mac ini.
Rumah itu mirip kisah daripada sebuah buku cerita kanak-kanak terkenal The Twits karya penulis British, Roald Dahl.
Antara kelengkapan dalam rumah itu ialah katil, ketuhar gelombang mikro dan lukisan.
Perabot paling berat ialah almari pakaian yang mencecah 45 kilogram.
![]()
Satu lagi pembuktian kekuasaan Tuhan yang menjadikan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin seperti halnya api yang menyala di dasar laut ini. Baru-baru ini muncul sebuah fenomena yaitu terjadi retakan di dasar lautan yang mengeluarkan lava, dan lava ini menyebabkan air mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat Celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa tingginya, ia tidak bisa membuat air laut menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah luah, ia tidak bisa memadamkan api. Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik ini. Firman-Nya:
artinya : ada laut yang di dalam tanahnya ada api.
“Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan.”
وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ (٦)
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu [Al Qur’an] menurut kemauan hawa nafsunya. (3)Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan [kepadanya], (4) yang diajarkan kepadanya oleh [Jibril] yang sangat kuat, (5) Yang mempunyai akal yang cerdas; dan [Jibril itu] menampakkan diri dengan rupa yang asli, (6) sedang dia berada di ufuk yang tinggi. (7) Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, (8)maka jadilah dia dekat [pada Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat [lagi]. (9) Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya [Muhammad] apa yang telah Allah wahyukan. (10)” (QS. An-Najm (53):3-10)
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

aku selalu berkata aku akan tahu di mana tempat untuk menemukan cinta,
aku selalu berpikir aku akan siap dan cukup kuat,
tetapi beberapa kali aku hanya merasa aku dapat menyerah.
tapi kamu datang dan kamu mengubah seluruh duniaku.
aku merasa sedang berada di suatu tempat, yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. sekarang aku tau, apa artinya cinta.
hal ini sangat luar biasa,
dan aku tidak ingin membiarkannya pergi,
sesuatu yang begitu indah,
mengalir turun seperti air terjun.
aku merasa kau selalu…
selamanya menjadi bagian dari diriku.
dan sangat sulit dipercaya akhirnya aku jatuh cinta,
aku merasa sedang berada di suatu tempat,
dan aku tidak pernah berpikir aku akan merasakan ini..
dalam hatiku, di kepalaku, begitu jelas sekarang,
pegang tanganku, kau tak perlu takut sekarang,
aku tersesat dan kau telah menyelamatkan aku dengan berbagai cara
aku masih hidup, aku cinta kamu, dan kamu telah melengkapi hidupku,
dan aku belum pernah ke sini sebelumnya.
sekarang aku tau, apa artinya cinta
ketika aku berpikir tentang apa yang aku miliki,
dan aku hampir kehilangan kesempatan ini
aku tidak bisa untuk tidak hancur, dan menangis.
ya hancur dan menangis
sekarang aku tau, apa artinya cinta..
cinta itu kamu, Ray...

tidak bisa menyentuh
tidak bisa menahan
tidak dapat bersama-sama
tidak bisa mencintai
tidak dapat mencium
tidak dapat saling memiliki
harus kuat, dan kita harus saling melepaskan
tidak dapat mengatakan tentang hati yang kita tahu.
bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu?
apa yang harus kukatakan tentang isi hatiku?
kapan aku tidak ingin kau di sini dalam pelukanku?
bagaimana seseorang bisa jauh dari semua kenangan?
bagaimana aku tidak rindu padamu saat kamu pergi?
tidak bisa bermimpi
tidak bisa berbagi kenangan yang manis dan lembut
tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan
harus berpura-pura bahwa itu telah berakhir
harus berani, dan kita harus berpisah
harus tidak mengatakan apa yang kita tahu selama ini tentang perasaan kita.
bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu?
apa yang harus kukatakan tentang isi hatiku?
kapan aku tidak ingin kau di sini dalam pelukanku?
bagaimana seseorang bisa jauh dari semua kenangan?
bagaimana aku tidak rindu padamu saat kamu pergi?
bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu ketika kamu pergi?
Aku sangat bosan berada di sini,
Ditekan oleh rasa kekanak-kanakanku, yang membuatku takut.
Dan jika kamu harus pergi, aku berharap bahwa kamu hanya akan ‘meninggalkan’
Kehadiranmu di sini masih belum terpecahkan, dan aku tidak ingin kau meninggalkan aku sendirian.
Luka-luka ini sepertinya tidak akan sembuh, rasa sakit ini terlalu nyata.
Terlalu banyak waktu yang terlewati dan itu tidak bisa menghapusnya.
Ketika kamu menangis, aku akan menghapus semua air matamu.
Ketika kamu akan berteriak, aku akan melawan segala ketakutanmu.
Dan aku akan selalu memegang tanganmu untuk melalui semuanya tahun ini.
Tapi kamu masih memiliki semua yang ada padaku.
Kamu gunakan cahaya beresonansi untuk memikatku.
Sekarang, aku terikat oleh kehidupan yang kamu tinggalkan.
Wajahmu menghantui aku setiap mimpi, menyenangkan sekali.
Suaramu mengusir semua kewarasan dalam diriku.
Aku sudah berusaha keras untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kau sudah pergi
Meskipun kamu masih bersamaku saat ini, tapi aku telah merasa aku telah sendiri..
Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua.
Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah "sungai" di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.


Namun pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, namun nampak seperti sungai... luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT.

Breathe you out
Breathe you in
You keep coming back to tell me you’re the one who could have been and my eyes see it all so clear
It was long ago and far away but it never disappears
I try to put it in the past Hold on to myself and don’t look back
I don’t wanna dream about
All the things that never were
Maybe I can live without...
When I’m out from under
I don’t wanna feel the pain
What good would it do me now
I’ll get it all figured out
When I’m out from under
So let me go
Just let me fly away
Let me feel the space between us growing deeper
And much darker every day
Watch me now and I’ll be someone new
My heart will be unbroken
It will open up for everyone but you
Even when I cross the line
It's like a lie I’ve told a thousand times
I don’t wanna dream about
All the things that never were
Maybe I can live without...
When I’m out from under
I don’t wanna feel the pain
What good would it do me now
I’ll get it all figured out
When I’m out from under
And part of me still believes
When you say you’re gonna stick around
And part of me still believes
We can find a way to work it out
But I know that we tried everything we could try
So let's just say goodbye
Forever
I don’t wanna dream about
All the things that never were
Maybe I can live without...
When I’m out from under
I don’t wanna feel the pain
What good would it do me now
I’ll get it all figured out
When I’m out from under.....
hari ini gw terinspirasi bwt bikin FB baru,
account ber-2.. hehehe
sayang bgt ma bee..
Luph u bee..
hehehehe ini teh pgn cepet"..
Liat kan?? segala'y utk ber-2..
Luph u more.
oia.. add yach bee.raymond@gmail.com (Ray Untuk Bee Selamanya)
Trimz..

“Ray jahat...!!” teriak Bee saat tangan cowok bandel itu menarik kuncir rambutnya. Sementara, Ray sudah kabur, sambil tertawa ngakak, meninggalkan Bee yang memberengut kesal. Murid-murid lain yang ada di lorong, hanya geleng-geleng kepala saat melihatnya. Kejadian seperti itu sudah biasa bagi mereka. Tidak pagi, saat istirahat, ataupun saat pulang, kedua orang itu selalu bertengkar. Bee sebenarnya tidak habis pikir kenapa cowok itu seneng banget bikin dia sewot.
Ray. Cowok itu dikenalnya saat dia duduk di bangku kelas tiga SMP. Sementara, Bee sudah duduk di kelas dua SMA. Ray teman maen basket Leo, kakak kandung Bee. Sebenarnya, Bee hanya pernah bertemu Ray sekali. Tapi, nama Ray selalu disebut-sebut Leo sebagai sahabat terbaiknya. Hingga tragedi itu terjadi. Leo mengalami kecelakaan mobil. Setelah empat hari dirawat di rumah sakit, ia pun meninggal. Waktu itu sekitar enam bulan sebelum Bee lulus SMP. Dan sejak itu, ia tidak pernah mendengar nama Ray lagi. Saat itu, ia begitu terpukul dengan kematian kakak kandung satu-satunya itu. Bee berubah menjadi pemurung. Dunianya hanya sekolah dan kamar tidur. Orangtuanya sampai khawatir dibuatnya.
Lalu, masa sebagai murid baru SMU pun tiba. Namun, di tengah kehebohan teman-teman barunya, Bee tetap menjadi gadis pemurung. Hingga suatu hari....
“Hai.. Kamu Bee, kan? Masih ingat aku? Ray, teman maen basket kakakmu. Sorry baru tahu kalo kamu jadi adik kelasku. Habis kamu kecil, sih, jadi nggak kelihatan. Kalau perlu apa-apa, jangan sungkan minta tolong, ya. Ok!”
Lalu sekejap cowok itu sudah berlalu meninggalkan Bee yang terbengong-bengong kaget. Otaknya masih berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan wajah yang muncul seperti hantu. Sekejap datang dan sebentar kemudian hilang. Setelah itu, kehebohan pun terjadi di kelasnya.
Teman-temannya, terutama yang cewek, langsung menyergapnya dengan berbagai pertanyaan. Siapa? Kenalin, dong! Cakep banget! Gimana bisa kenal? Dan masih banyak lagi. Maklum aja, anak baru sudah dikenal kakak kelas, cakep lagi, siapa yang nggak penasaran. Dan, sejak itulah hari-hari Bee selalu dibayangi segala keisengan Ray. Namun, Bee tak bisa benar-benar marah padanya. Karena, ia sadar polah bandel Ray-lah yang telah mengubahnya menjadi Bee yang dulu lagi. Bee yang manis dan ceria.
Jam istirahat. Bee tampak termenung sendirian di kelas. Di tangannya ada selembar brosur tentang audisi pencarian bakat penyiar radio di kotanya.
Sesekali dihembuskan napas pendek. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, ia tidak menyadari, Ray sudah berdiri di sampingnya sambil senyum-senyum. “Melamun, Non?” sapa Ray pelan. “Hiahh!!” teriak Bee kaget, “Eh, Dodol! Kira-kira, dong! Jantung aku bisa copot tau,” seru Bee. “Eh, Bakpaw! Makanya jangan ngelamun aja!” bales Ray enggak mau kalah. “Suka-suka! Mo ngelamun, kek! Mo ketawa, kek! Mo nangis, kek! Terserah, dong! Kenapa kamu yang repot?” sahut Bee makin sewot. “Lagi mikirin aku, ya?” ujar Ray dengan seringai jahil tanpa memedulikan Bee yang mulai naek darah. “Eeenak aja! Emangnya kamu siapa?” sahut Bee sambil tetap berusaha menahan diri. “Kalo gitu pasti cowok laen, pacar? Ehm... bener juga, sih! Cewek bandel kayak kamu seharusnya memang punya pacar. Jadi, ada yang ngasih nasihat kalo lagi kumat.” Ray nyerocos tanpa peduli Bee yang sudah mau meledak saking jengkelnya.
“Ok, deh! Ray bantuin, ditanggung sebentar lagi kamu bakal dapat pacar. Gimana? Setuju?” Kali ini mimik wajahnya dibuat serius. “Enggak butuh!” seru Bee setengah berteriak sambil melangkah keluar kelas, meninggalkan Ray yang lagi ketawa terbahak-bahak, sendirian. Saat itu, mata Ray tertuju pada kertas yang ditinggalkan Bee. Ia tersenyum, ada sesuatu muncul di kepalanya. Pagi ini sarapan dalam perut Bee langsung hilang hanya untuk menahan emosi. Di hadapannya terpampang besar sebuah kertas pengumuman di samping mading sekolah:
DICARI!!! Seorang cowok yang mau menjadi pacar Lidya Bee, dengan kriteria: Sanggup jalan sama cewek bandel, manja, tulalit, dan gampang marah. Bagi yang berminat, silakan berhubungan langsung dengan Bee NOTE: MOHON CEPAT! CEWEK INI SUDAH HAMPIR BUNUH DIRI KARENA DEPRESI.
Selesai membacanya, Bee langsung mencak-mencak. Matanya sibuk mencari Ray. “Awas kalo ketemu,” desisnya. Dan saat masuk ke kelasnya, Ray tampak duduk di bangkunya sambil senyum-senyum. Saat keduanya sudah berhadapan, belum sempat Bee membuka mulutnya, sebuah amplop diserahkan Ray ke tangannya. “Ini tanda peserta untuk audisi penyiar, awas kalo sampai nggak datang. Aku sudah rela antri berjam-jam dan keluar duit buat ngedaftarin kamu. Ok!” Lalu secepat kilat kabur meninggalkan Bee yang kebingungan. Bingung karena enggak jadi marah dan bingung soal tanda peserta di tangannya. “Dari mana dia tahu?” tanya Bee dalam hati sambil garuk-garuk kepala. Hari itu tiba. Sebenarnya, Bee enggan mengikuti audisi itu karena dia merasa kurang percaya diri.
Namun, Ray yang datang menjemput, dengan alasan tidak rela duitnya terbuang sia-sia, berhasil memaksa Bee untuk berangkat. Ray hanya memberinya dua pilihan, digendong paksa untuk ikut atau jalan sendiri walau juga terpaksa. Dan yang bikin Bee dongkol, mama dan papanya hanya senyum-senyum, seperti mengamini kelakuan Ray. Di sinilah dia akhirnya, berjajar menunggu giliran bersama puluhan peserta yang lain. Sementara Ray menunggu di kejauhan sambil sesekali menyeringai bandel. Sepertinya, dia mau bilang, “Mampus kau”, sambil tertawa senang. Audisi berjalan sampai malam. Ditemani Ray, Bee menunggu pengumuman keluar. Pukul 23.00, hasil itu pun keluar. Bee dan Ray sibuk mengamati dari atas ke bawah berulang-ulang lima nama yang ada, tapi tetap saja nama Bee tak muncul secara ajaib di sana. “Tuh, kan! Sudah dibilang apa? Pasti gagal!” ujar Bee. Ray tersenyum,“Yang penting kan sudah dicoba. Itung-itung buat pengalaman.”
Kali ini suara Ray terdengar tulus menghiburnya. Bee sejenak terdiam. Baru kali ini, dia mendengar Ray bicara dengan nada seperti itu. Diamatinya Ray. Sebenarnya, ada sesuatu yang sejak tadi ingin ditanyakannya. Dan ia perlu tahu sekarang. “Ray!” panggil Bee. “Hm...,” sahut Ray pendek. “Boleh tanya nggak?” “Tanya apa?” “Kenapa kamu semangat banget maksa aku ikut audisi?” Tak ada jawaban.
“Jangan sampai kamu bilang, kamu jatuh cinta sama aku!” ancam Bee. Sejenak Ray tertawa kecil, “Ini semua karena kakakmu.” Bee mengernyitkan kening, “Maksud kamu?” ia bertanya tak mengerti. “Sebelum meninggal, Leo pernah ngomong kalo sampai dia mati, dia bakal meninggalkan seorang adik kecil manis yang menyayanginya. Dia enggak mau, adiknya menjadi dan tak pernah terbang mencapai mimpi dan cita-citanya.
So, di sinilah aku, sesuai janji yang aku buat. Aku akan menjadi sayap untuk membawamu terbang ke angkasa mimpimu, sampai kamu kuat dan berani untuk terbang sendiri. Walaupun harus kuakui repot juga ngurus adik yang bandelnya setengah mati.”
Bee tertegun. Dipandanginya Ray lebih lekat. Ada sebuah rasa yang begitu besar merayap naik ke hatinya. Rasa sayang kepada sosok di depannya, yang telah berjuang mengganti sosok lain yang telah pergi dari hidupnya. “Makasih, Kak...,” ucap Bee dengan mata basah. “Eh, kok nangis? Sudah, dong! Malu dilihat orang.” Bee tak peduli, dipeluknya Ray. Sebuah bisik lirih keluar dari mulutnya, “Terima kasih sudah menjadi sayap untukku. Bee janji untuk mulai belajar terbang.”
Bee mendongak, dipandanginya bintang-bintang di langit. Wajah Leo tergambar di sana, “Terima kasih, Kak! Sudah memberikanku sayap yang begitu kuat...,” bisik Bee dalam hati.

bisa dibilang ini blog punya Qta b-2, coz bee udh ngizinin gw buat acak" blog'y
hahahaha paraaaahh.. (luph u bee)
perkenalkan,
ray adalah orang biasa ajah, ray adalah ray dan tidak pernah berubah menjadi siapapun,
ray hanya orang biasa yg hidup'y di kelilingi oleh orang" yg super luar biasa..
yach.. begitulah ray.. yg pandai bergaul.. hahaha
hal pertama yg mw gw tulis disini adalah perasaan gw buat bee..
sebagian orang mungkin bakal menilai gw adalah sosok cowo yg romantis.
bahkan setiap gw nge-wall ke fb bee, selalu di like this ma org.. hahahaha (cie bangga)
padahal dibalik sikap romantis'y gw, gw tuh asli'y cuek bgt.
dan gw bisa luluh sama bee. yach gw sayang banget ma makhluk berjenis kelamin wanita yg satu ini.. karena hanya bee yg bisa bikin gw berubah dr sikap gw yg seenak'y (dulu)
awal kenal bee => dihukum papi buat kerja jadi operator produksi (padahal om gw kerja disitu jg punya jabatan tinggi, dan gw bisa jg jd staf. tp papi keras bgt org'y, akhir'y gw anggap enteng, cm 3bulan), karena dulu yg gw tw tugas anak cm ngabisin uang bonyok ajah. hahaha
gw kerja di salah satu Perusahaan Otomotif di daerah Surya Cipta Karawang.
gw akhir'y kost di rumah temen gw (nyampur sama yg punya),
rumah'y cm kehalangan 4 rumah dr rumah bee..
kesan pertama tinggal di karawang, panas gila.. hahahaha
di daerah blok tempat gw kost mayoritas cewe..
yg setiap malem selalu rajin ngunjungin rumah temen gw (maksud'y ga laen buat kenalan ma gw, yach gw tw itu).. gw org'y cuek..
bahkan ada cerita lucu.. ada salah satu cewe.. inisial'y N, c N ini udh punya cowo,
nah pas maming, cowo'y ngapel ke rumah'y tp si N bilang gni, "yank, kamu pulang jam 8 yach N mw tidur, lagi ga enak badan" teng jam 8. cowo'y N pulang, tp N ga tidur, dy malah nyamperin gw di rumah temen gw itu.. hahahahaaaa (cewe aneh)
setiap malem selalu byk cewe yg rajin datengin gw.
cm 1 cewe yg ga begitu.. yach dia adalah bee.
kata nyokap'y temen gw sech, bee adalah cewe supel yg asik diajak bergaul. bisa bawa diri, yach asik lah, tp bee kurang suka kl nyamperin cowo.. dy takut diomelin mamah & nenek'y..
gw sering perhatiin bee lewat depan rumah temen gw, yach dy pulang kuliah emg lewat depan rumah, tp ga pernah mampir sama sekali. begitu setiap hari'y padahal gw pgn kenal. yach cowo selalu penasaran utk hal ini, gw ngerasa gw ganteng (hehehe anak import belanda, china, sunda... bule lah, temen" gw jg panggil gw bule) tp bee ttp cool kl ketemu gw. (jaim mgkn).
pada akhir'y dy ttp gto, gw minta nope'y m temen gw, dikasih dan gw sms bee..
kenalan, dan pada akhir'y gw dengan PD'y kirim sms yg isi'y kurang lebih
"bee, mampir dunx ke rumah, gw pen kenalan"
tp harga diri gw seketika langsung ancur setelah dapet balesan
"sorry, gw sibuk kl mw kenalan k rumah gw ajah, deket kan?? tp tunggu kuliah gw libur, yach hari minggu"
gw ngerasa di tolak, padahal gw kurang gmn ganteng?? hahaha
tp gw ga nyerah, gw ke rumah'y buat kenalan..
kesan pertama yg gw dapet "bee, sadis bgt c jd cewe.. jawab gw seperlu'y padahal ga pake pulsa" hahahaha
tp gw suka dy..
dan gw putuskan buat nembak dy, tp dy terima gw setelah gw jd mualaf, yach kenal pribadi'y bikin gw males buat pacaran yg main" ajah..
inti'y gw serius...
Qta sempet putus karena dy ngerasa takut gw selingkuh, setelah gw kembali aktif di dunia modeling..alesan'y simple, karena gw banyak ketemu cewe disana.. gw ga bisa, gw buktiin gw serius, tp pada saat gw balik ke karawang, bee selalu dengan status "in relationship"
berapa cowo udh gw omongin baik"
tp bee org'y mudah percaya dengan omongan org lain.
jd pada saat gw tw cowo'y ga serius m bee, bee selalu ngelak dan selalu bilang "maaf gw percaya cowo gw, jgn ganggu hubungan gw"
yach selama gw terus deketin dy semenjak gw putus january 2009 lalu.
sampai akhir'y...gw putuskan nembak dy pas taon baru 2010.
tp bee nantang gw dengan bilang gni.
"bee males pacaran ray, kl mw lamar bee ajah"
gw sebagai cowo merasa tertantang, gw yakin pgn hidup bersama bee, tp gw jg takut ga bisa bahagiain bee, karena ini udh menyangkut masa depan dan komitmen, akhir'y gw inget kata" bee
"pada saat kamu bingung menentukan pilihan, sholat istikarah lah.. insya Allah kamu akan mendapatkan jawaban'y"
gw lakuin itu smw, dan Alhamdulillah .....
bahagia bgt..
tp skrg ini ga dikit cowo yg deketin bee, gw liat fb'y jg jealous...
tp gw ga akan ngekang bee, karena gw percaya bee...
bee adalah orang yg selalu jaga perasaan pasangan'y.. dan gw percaya bee pun begitu kali ini..
gw ga pernah bisa marah ma bee, bukan karena gw takut, tp karena gw sayang bgt m bee.
ga pgn bee terluka.
entah sampe kapan gw bisa bahagiain bee..
moga Tuhan denger ini..
Ya Allah, ray pgn langgeng m bee sampe kakek nenek.
gw ga sabar nunggu 11.10.2011 => masih lama, tp moga aja apapun rintangan'y bisa gw hadapi bersama..
Luph u my bee...

I wish to thanks my beloved, ray..
for all he's done for me, all is for well-being.
yes, only he who can keep me, after my father left me.
thank you already love me sincerely.
I never even know, can I get back love you for you love me?
I can see and judge how big sacrifice for me.
yes, I really appreciate your work it.
God has to bring you back, to give color in my life that was almost gray.
I was sunk, and became a very sad after so many times I felt lost.
but with your presence in my life, I felt I was the happiest woman in the world, because it has a lover who really loved me.
you express affection was very beautiful.
you made me a woman who was almost perfect.
you love me in a way that was so perfect.
people even envy, for the sake of watching big love for me.
I remember, when you're sick, and I said I was sick, too.
without a long think, you see me, with pain, you're covered everything I wanted, and you stayed with me until I fell asleep.
you still care when I opened my eyes.
you just relax after me to the office.
I'm learning to love you now,
I only want one thing from you.
"Don't ever tired to love me, don't leave me alone"
I will pay all you have done to me.
all will pay with my love.

saat kau hadir dalam hidupku,
saat kau ada isi hariku,
kau hapuskan semua lara di jiwa,
yang t'lah lama mengendah di hati.
ku kan belajar 'tuk cintai kamu,
ku berjanji untuk s'lalu denganmu,
sampai nafasku tak lagi berhembus,
hati ini selalu untukmu.
dan aku ingin kau pun berjanji takkan lukaiku,
dan ku ingin engkau hanya untukku sampai akhir masa kita.
kuharap kau mengerti akan diriku,
kuingin kau mengerti angan mimpiku, 'tuk bahagia.
these note I made for my luph..
I luph u, and I hope I luph u all my life..
Aku tidak menginginkan jiwaku tanpamu, karena semenjak hari indah itu jiwaku sudah menjadi milikmu..
Sungguh menyedihkan menyadari, bahwa diriku bukan lagi tokoh utama dalam cerita
hidupmu..
kisahku t'lah usai..
Aku menikmati moment ketidakwarasan yg datang mendadak tanpa pernah ku duga..
Meski berjuang keras untuk tidak memikirkannya namun aku tidak berjuang untuk melupakannya..
Terlarang untuk diingat..
Takut untuk di lupakan..
Sangat sulit menjalaninya..
Tidak akan pernah ada apa-apa lagi untukku..
Tidak akan pernah ada kecuali kehampaan yang mengisi relung hatiku..
Aku telah di ubah tanpa ku sadari..
Bagian dalam diriku telah berubah hingga nyaris tak bisa ku kenali lagi..
Bagian luarku pun tampak berbeda..
Hasil mimpi buruk yang tak pernah usai..
Jangan harap aku menepati janjiku sementara pihak lain sudah melanggarnya..
Aku tak ingin menjadi pelaku kebodohan itu berkali-kali..
Kebodohan yang sebenarnya aku sadari, dan aku cintai..
Apakah aku harus berusaha mendorong diriku kembali ke keadaan seperti Zombie? Terdiam tak berdaya, hanya mampu melihat dan merasakan sakit yang terus mengisi hatiku..
Apakah aku berubah menjadi sesosok mahluk yang senang di siksa?
Dengan rasa sakit yang tak terlihat, namun terus menerus menyiksaku..
Bagai gelas wine yang sudah tak terpakai di lemari penyimpanan..
Yang dulu selalu menampung murninya wine yang menghangatkan tubuh..
Tak disentuh dan dilupakan..
Ditinggalkan pemiliknya..
Sama seperti aku..
Kekosongan yang menyayat hati..
Membuatku melupakan kehangatan..
Aku tak sanggup membiarkan ingatanku kehilangan suara itu..
Aku akan membayar untuk semua kenangan yang dapat kuingat dan kurasakan..
Tak perduli berapa pun harga yg harus kubayar..
Aku melakukan kecerobohan yg tidak perlu..
Mencintai tanpa tau arah mana yang kutuju..
Aku seperti bulan tersesat..
Planetku hancur dalam skenario film tentang kepedihan hati yg menimbulkan perubahan besar yg tetap..
Walau bagaimanapun, aku mencoba bergerak dalam orbitku yg kecil dan sempit mengitari ruang angkasa yg kini kosong melompong tanpa planet yang harus kukelilingi.. Mengabaikan hukum gravitasi..
Mengabaikan hukum alam yang ada..
Aku hancur, luluh dan tidak bisa di perbaiki lagi..
Bagaimana bisa aku menjelaskan keadaanku yg hancur berkeping-keping?
Kondisiku kini meringkuk seperti bola, untuk mnjaga agar lubang kosong itu tidak mencabik-cabik tubuhku..
Meringkuk memegang kedua lututku agar tubuhku tak hancur menjadi debu..
Meringkuk untuk menjaga jantungku untuk tetap berdetak dengan semestinya..
Nama itu membuat lukaku yg masih basah kembali berdarah..
Namanya masih mampu merobek lukaku yg belum pulih..
Bagaikan sebuah pisau daging bergigi tajam..
Kepedihan mengoyak hatiku..
Ia meninggalkan mimpi buruk yg baru..
Seperti infeksi pada luka yang disiram dengan air garam..
Penghinaan setelah semua perlakuan buruk.. Kenangan itu semakin memedihkan luka hatiku yg belum pulih..
Saat kamu menyayangi seseorang, mustahiL bersikap logis mengenai mereka..
Saat ku melihat adegan kecupan, aku berusaha mengabaikan moment intim itu karena luka hatiku yg berdenyut-denyut nyeri..
Sebuah kecupan ringan yang pertama ku berikan pada seorang pria dewasa selain keluargaku..
Semakin kau mencintai seseorang, semakin pikiranmu menjadi tidak rasional..
Ketika ku coba untuk memikirkannya kembali..
Rasanya paru-paruku tak bisa bernapas seolah-olah akan pecah berkeping-keping..
Aku sudah terlalu banyak merasakan kehilangan..
Apakah takdir akan merenggut sedikit kedamaian yang masih tersisa di hatiku?
Kini lubang didadaku mulai bernanah..
Bagian pinggirnya panas membara..
Kepedihan didadaku semakin lama semakin tidak bisa di tolerir lagi..
Aku melihatnya, namun aku tak ingin berjuang untuk memilikinya..
Aku sudah lupa bagaimana rasanya kebahagiaan yang sesungguhnya..
Mampukah aku mengkhianati hatiku yg hampa demi menyelamatkan hidupku yg menyedihkan?
Aku tidak seperti ditinggal seseorang, tapi seolah-olah seperti ada yg meninggal.. Karena rasanya LEBIH dari sekedar KEHILANGAN seseorang yg merupakan cinta paling sejati dalam kisah cinta hidupku..
Tapi juga kehilangan seluruh impian yang dirancang bersama..
Seluruh hidup yang telah kupilih bersamanya..
Cukuplah mendengar cerita tentang keluarga yg dulu aku pernah bermimpi ingin menjadi bagian darinya..
Cinta sejati telah hilang selama-lamanya..
Bersama semua kisah yang dulu pernah kau janjikan untukku..
Sang pangeran berkuda putih takkan pernah kembali untuk mengecupku
dan membangunkaknku dari tidur panjang..
Tak akan pernah kembali untuk mengajakku tertawa dan menceritakan semua kesedihannya..
Satu hal terakhir yang akan kulakukan untuknya..
Aku akan menukar separuh hidupku untuk kebahagiannya.. Walaupun sebenarnya..
Mungkin aku akan semakin terluka ketika ia nantinya menemukan seorang putri yang sesungguhnya, yang akan selalu di ajaknya tertawa dan mampu mendengarkan semua keluh kesahnya..
Yang mampu mengukir senyuman di bibirnya untuk setiap detiknya..
Yang mampu memenuhi semua yang ia butuhkan..
Namun itu lebih baik, dibandingkan aku hidup panjang selain dengannya dan tak melihatnya bahagia..
Aku baru saja kehilangan s0s0k ayah yg sangat tegar,
dia pergi,, dengan senyum..
aku tau ayahku sangat menyayangi aku, apapun kesalahanku yg telah menyakiti hatinya..
semudah ia membalikan tangan untuk memaafkan aku (tanpa aku yg meminta maaf, ya aku sadari aku tak pernah meminta maaf kepadanya atas perbuatanku yg sangat jahat.. aku adalah anak yg paling jahat yg pernah ada dikehidupannya)
tulus nya ayahku.. dan baru aku sadari, dari sekian byk ayah* yg aku temui. (ayah temen*aku) hanya ayahku yg paling bijak dan baik.. Demi Allah..
sebenarnya aku sering membanggakan ayahku di depan semua teman*ku.. nyaris tanpa cela..
aku sangat bangga pada ayahku.. tp aku selalu menyembunyikan ini di depan ayahku, yah aku sangat pengecut sebagai anak yang menutupi kebanggaanku di depan ayahku sendiri..
Tuhan, andaikan bisa... aku rela menukar separuh sisa hidupku untuk mengembalikan ayahku di tengah keluargaku.. Demi Allah ikhlas bgt, akan aku pergunakan dengan baik untuk membahagiakannya.. tp aku tau ini takkan mungkin, dan akhirnya yang aku lakukan hanya menangis, menyesali perbuatanku yg kurang ajar kepada ayahku sendiri..
sungguh penyesalan itu datang sangat menyiksa batinku..
mungkin skr aku terlihat biasa saja.. seperti tidak terjadi apa* tp tanpa kalian tau, batin aku berteriak, meronta.. tentu kalian tau.. seorang yang terlihat sangat tegar sebenarnya dia lah yg paling rapuh.. yah aku sangat rapuh, bahkan untuk menghentikan tangisku aku harus menampar pipiku keras*..
Ayahku.. adalah s0s0k suami yg baik untuk ibuku..
ayahku, dia sangat mengerti dengan ketidak adilan untuk dirinya..
Ya Allah, semasa hidup ayahku nyaris tak pernah bahagia.
mungkin ayahku mendapatkan kebahagiaan saat menikahi ibuku,
saat anak tercintanya lahir dan tumbuh dewasa (walaupun setelah dewasa, anaknya bahkan kyk anj**k semua.. ancur,, galak)
Tuhan, knp orang baik spt ayahku harus kau ambil cepat*??
bahkan umurnya pun belum genap 51thn.. (masih 22hari sebelum usianya genap 51thn)
aku sering memaki*kebodohan aku..
aku tuh anjing, tae.. setan.. iblis.. ga guna.. sialan.. goblok, babi,. bego..
aku benci diriku sendiri, semenjak ayahku tersayang pergi tanpa pamit..
tp menyesalpun tak akan pernah menghidupkan ayahku kembali,
ayahku sayang, aku ingin membuatmu bangga..
tentunya ayahku masih bisa melihatku dari surga..
bahkan skr pun aku masih merasa dia menjagaku..
sungguh.. dia tak pernah ingkar janji untuk selalu menjagaku..
Aku ingin bertemu denganmu ayah, sebentar saja.. kabulkan ayahku..
aku ingin bersujud memohon ampun..Demi Allah aku sangat menyesal..
aku ingin bertemu...

