Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.
Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu.
Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.
"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu.
"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah ."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.
Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. "
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan
untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu,
tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
Kamu, Milikku yang Paling Berharga
Aku sangat menyukai ucapan mama: "Barang milikku yang paling berharga adalah kamu!" Ucapan yang sangat menyejukkan hati dan sampai sekarang aku masih mengingatnya terus!
Papa dan mama menikah karena dijodohkan orang tua, demikianlah yang dialami para muda-mudi di jaman itu, tapi hal ini sudah umum. Di jaman sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan sendiri. Tapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dengan papa dan mereka tampak selalu mesra, akur bagaikan sejoli yang tak terpisahkan. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang badai!
Badai itu nyaris memisahkan mereka hanya karena emosi sesaat saja! Papa dan mama bekerja diinstansi yang sama, oleh karena itu setiap hari berangkat dan pulang bersama. Suatu hari mereka kerja lembur, mengadakan stock opname di gudang, hingga pukul 2.00 dinihari dan baru pulang kerumah.
Papa sangat letih dan lapar, sampai di rumah tidak ada makanan maupun minuman yang siap disaji. Papa yang lapar minta mama untuk menyiapkan makanan dan minuman. Beberapa hari belakangan ini emosi mama memang tidak stabil, ditambah lagi dengan adanya lembur, badan dan pikiran sungguh melelahkan, sehigga denagn kondisi yang labil itu, mama spontan menjawab dengan nada keras, "Mau makan dan minum, memangnya tidak bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan dan kaki lagi, ya?"
Karena papa juga terlalu capek, langsung menjawab dengan acuh tak acuh, "Kamu ini isteriku, memasak adalah sudah menjadi kewajibanmu!" Mama langsung merespon, "Tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat waktunya makan, orang laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!"
Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung berteriak dengan emosi, "Kamu salah makan obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut ya? Istri memasak untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu? Kamu tidak senang, ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah ini!!!"
Mama tidak menyangka akan menerima reaksi yang begitu keras. Setelah terdiam sesaat, mama kemudian berkata sambil menitikkan air mata, "kamu ingin aku pergi, baik aku akan pergi sekarang!" Mama segera kembali ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Melihat mama masuk kamar dan berkemas-kemas, papa berkata kepada mama yang membelakanginya, "Bagus! Pergi sana! Ambil semua barang-barangmu mu dan jangan kembali lagi!"
Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak ada kata-kata kebencian lagi yang muncul, menit demi menit berlalu, tapi mama tetap tak kunjung keluar dari kamar. Merasakan keanehan itu, papa kemudian menyusul masuk kamar dan melihat mama sedang duduk diranjang penuh dengan linangan air mata. Sambil menatap koper kulit besar yang masih tergeletak di atas ranjang, melihat papa datang, dengan terisak-isak mama berkata, "duduklah di atas koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang masa-masa perpisahan kita yang terakhir."
Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya tidak tahan juga untuk tidak bertanya, " "Untuk apa?" Sambil menangis denagn terputus-putus mama berkata, "Emas dan perak aku tidak memilikinya, "Tapi milikku yang paling berharga adalah kamu!" Kamu dan anak-anakku, aku tidak memiliki apapun...."
Meskipun kejadian itu telah lewat lama sekali, tapi aku masih mengingatnya terus sampai sekarang. Apalagi ketika mama mengucapkan kata-kata terakhir itu, papa merasa sangat tergoncang. Sejak malam itu, papapun sadar dan kembali menghormati dan menyayangi mama. Menggandeng tangan anak-anak, merangkul mama serta saling berpelukan. Kelak aku juga bercita-cita ingin mendapatkan pasangan seperti papa.
Bagaimanapun kehidupan yang kita jalani dan kita hadapi tidaklah penting. Namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi peristiwa dan kejadian dalam hidup ini, terutama di saat-saat muncul 'badai' yang menguji kita...
Mereka yang berpikiran negatif, menganggap perubahan itu menyakitkan. Namun, mereka yang berpikir positif, menganggap perubahan itu sebagai suatu kesempatan baik untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
Alkisah ... disubuah negeri dongeng, adalah seorang Putri Raja yang mempunyai 2 macam benda kesayangan, yang satu adalah pohon mawar yang tumbuh disamping jendela kamarnya. Sedang yang satu lagi, adalah sebuah gelang emas yang berhiaskan butir-butir berlian, yang senantiasa ia pakai.
Setiap pagi Putri Raja membuka jendela kamarnya. Lalu, dengan tangannya yang putih halus berhiaskan gelang yan indah itu, ia selalu membelai-belai bunga warna merah yang mekar disamping jendela kamarnya itu.
Sementara itu, sinar mentari pagi yang cerah menyinari gelang sang putri. Membuat butiran-butiran berliannya berkilauan indah sekali.
Mawar dan gelang berlian pastilah berbahagia sekali, menjadi kesayangan sang putri.
Tetapi tidak demikian, mawar merasa iri kepada keindahan dan keabadaian gelang berlian.
Suatu pagi, ketika sang putri berada ditepi jendela dan sedang membelai mawar, menyeletuklah pada gelang berlian. " Alangkah enak nya menjadi sebuah gelang berlian."
"Ah, mengapa engkau berkata seperti itu ?" tanya gelang berlian kepada mawar.
"Kamu indah sekali. bentuk dan sinar kemilaumu abadi. sedangkan aku, sebentar lagi akan layu, lalu berguguran. sang putri tentu tidak akan meyukai aku lagi"
" Ah kawan, engkau jangan memandang diriku dari apa yang tampak, " jawab gelang berlian. " Ketahuilah, aku justru sedih dengan keadaanku, karena seumur hidupku , aku terus tetap berbentuk seperti ini"
" Benar, tapi aku semakin tua. dan mungkin suatu saat tidak akan berbunga lagi. Tidak seperti kamu yang indah sepanjang masa. "
" Oh mawar, aku justru iri kepadamu. meskipun ada saat nya engkau menjadi tua, tetapi lihatlah sepanjang hdiupmu. Engkau bertumbuh, berkembang dan mengeluarkan bunga baru setiap saat. Bau mu juga harum semerbak. Aku sungguh ingin menikmati hidup sepertimu, yang senantiasa mempunyai hal baru, hari demi hari "
Mendengar kata-kata gelang berlian, mawar diam. Direnungkannya apa yang dikatakan sahabatnya itu.
" Benar juga kata-kata gelang berlian. walaupun setiap hari aku berubah, tetapi bukanlah perubahan itu indah ? setiap hari aku menemukan hal baru dalam hidupku. Tidak seperti gelang berlian, yang sepanjang masa begitu-begitu saja, " kata mawar dalam hati.
Sejak itu mawar tak pernah iri lagi pada gelang berlian. Juga tak pernah iri pada siapapun.
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ....
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…..
Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun..., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
10-09-2007, 08:24 PM
Sudah beberap malam tubuh Noah panas tinggi dan keadaannya sungguh membuat kami kuatir. Kesedihanku tak terkatakan melihat lemahnya tubuh kecil Noah, dan kesedihanku semakin bertambah saat mengingat ketulian yang dideritanya. Suatu malam suhu tubuh Noah sangat tinggi sehingga aku dan Marty, suamiku sepakat bergantian untuk merawatnya. Tengah malam itu aku terjaga dan melihat Marty dengan penuh kasih sayang menimang-nimang Noah. Ia menaruh kepala Noah di dadanya yang bidang, supaya Noah dapat merasakan detak jantung ayah yang sangat mengasihinya. Untuk menidurkan dan menenangkan anak mai yang lain, biasanya kami menggunakan nyanyian atau bunyi mainan, tetapi untuk Noah kami menggunakan sentuhan. Noah terlihat tenang jika sedang dipeluk atau jemari kecilnya dipegang.
Beberapa menit kemudian aku bangun dan berdiri di depan pintu sambil memperhatikan pria yang luar biasa itu, ayah dari anak-anakku! Kemudian dengan lembut aku menyentuh bahunya sambil menawarkan diri untuk bergantian menggendong Noah, tetapi ia menggelengkan kepalanya. Malam itu aku kagum dengan pria yang telah kupilih menjadi pendamping hidupku, karena yang kutahu di luar sana banyak suami yang akan lebih memilih tidur di tengah malam daripada bergantian dengan istrinya untuk merawat anak-anak mereka.
Ketika pagi tiba, kami kembali membawa Noah ke dokter dan dokter menyarnkan agar kami membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Di rumah sakit kami berdoa saat menanti hasil test yang dilakukan untuk mengetahui penyakit Noah.
Kami sehati berdoa memohon kesembuhan untuk Noah dan saat itu kami merasakan kekuatan baru Tuhan alirkan di hati kami. Tak lama kemudian dokter memanggil kami dan memberitahukan bahwa Noah hanya terkena influensa. Kami saling pandang dan tersenyum sambil menghapus air mata yang menetes di pipi.
Setelah pulang dari rumah sakit aku melihat hubungan Marty dan Noah semakin akrab. Marty sering membacakan buku cerita dengan memegang tangan Noah guna menyajarinya membentuk tanda dari huruf-huruf yang ada di buku itu. Bahasa isyarat pertama yang diajarkan Marty adalah mengatakan "aku mencintaimu". Sebagai wanita aku merasa mampu mengasihi dan memelihara keluargaku karena ditopang oleh suami yang hebat. Marty adalah pria paling tepat yang telah kupilih menjadi ayah bagi anak-anakku.
Alkitab menceritakan bahwa Ishak juga memiliki ayah yang hebat. Sebagai ayah yang hebat, Abraham mendidik Ishak menjadi orang yang takut akan Tuhan. Abraham memelihara Ishak ketika Sara telah meninggal dunia. Kehebatan Abraham sebagai ayah disempurnakan ketika ia meminta Eliezer pergi ek Aram-Mesopotamia untuk mencari pendamping hidup bagi Ishak dari kaumnya.
Ayah yang hebat adalah ayah yang menjadi sahabat bagi anak-anaknya.
Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan.
Mereka adalah pasangan yg saling mencintai dan
anak itu adalah buah hati mereka. Saat anak
tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah
melihatsebotol obat yg terbuka. Dia terlambat
untuk ke
kantor maka dia meminta istrinya untuk
menutupnya dan menyimpannya di lemari.
Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama
sekali melupakan hal tersebut.
Anak itu melihat botol itu dan dengan riang
memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat
tersebut lalu si anak memakannya semua. Obat
tersebut adalah obat yg keras yg bahkan untuk
orang dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja.
Sang istri segera membawa si anak ke rumah
sakit. Tapi si anak tidak tertolong. sang istri ngeri
membayangkan bagaimana dia harus menghadapi
suaminya.
Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat
anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada
istrinya dan mengucapkan 3 kata.
PERTANYAAN :
1. Apa 3 kata itu ?
2. Apa makna cerita ini ?
JAWABAN :
Sang Suami hanya mengatakan "SAYA
BERSAMAMU SAYANG"
Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-
sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah
meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak
ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang
istri. lagipula seandainya dia menyempatkan untuk
menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal
ini tdk akan terjadi.
Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga
kehilangan anak semata wayangnya. Apa yg si
istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang
suami dan itulah yg diberikan suaminya sekarang.
Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara
pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih
sedikit permasalahan di dunia ini.
"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu
langkah kecil"
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan
ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa
sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau
bayangkan.
MORAL CERITA
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita
membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan
org lain atau siapa yg salah dalam sebuah
hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan org
yg kita kenal. hal ini akan membuat kita
kehilangan kehangatan dalam
hubungan antar manusia.
:x:x
Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana
orang-orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula
tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita
tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga
sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering
dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan
olehnya benar. Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu
sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang
ayah yang ia dapatkan.
Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar
dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya.
Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak
memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun
ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.
Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal
dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun
kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam
diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.
Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan
almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan
diatasnya tertulis "Untuk Anakku Tersayang". Dengan hati-hati diambilnya
bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam
tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Disamping kedua
benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna
kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan
yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.
Ya Tuhan,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini.
Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku Kumohon Ya Tuhan, Jadikan
buah kasih hambaMu ini Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu. Jangan
kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang Berikan pula jalan yang
penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya.
Sekali lagi kumohon Ya Tuhan, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia
tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu Selamat ulang tahun anakku Doa
ayah selalu menyertaimu
Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu
tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan
ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat
dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayah
memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras
agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan
sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita ........
20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh... Sam, suamiku, memberinya nama Eric.Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica.Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergike taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah...
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica, Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun..., 2 tahun..., 5 tahun..., 10 tahun... telah berlalu sejak kejadian itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam... Malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak... Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali... Ia melihat ke arah saya.Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy!" Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?" "Nama saya Elic, Tante." "Eric...? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric???" Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga.
Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya.Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric...Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?" "Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu," tapi aku akan nenceritakannya juga dengan terisak-isak... Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric... Eric... Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu.Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu... Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apapun juga! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya...
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja.Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami.Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali.
Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau, "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!" Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"
Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini,Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..." Sayapun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."
Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan...Katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan...!!!" Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!"
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku.
Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik.....dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung
diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, ....baru pulang kerumah,mandi,kemudian mengantar anak kami sekolah.
Tidurnya sangat sedikit, makannyapun sedikit....jadi Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun.
Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan dimeja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami,bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami.
Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya,dibanding makan dirumah...
dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS,karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU,...seorang perempuan datang menjenguknya.
Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara,seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona.
Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu,Meisha
bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku,..
dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang,ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya," Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh. dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya.
Dan..aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.
Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya.
Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah.
Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin.
Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu.Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka,hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun,rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
*Dear Meisha,*
*Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini,bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
**Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu,tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku.
Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.*
*Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya,seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami,namun tumbuh dengan lebat secara alami.
Itu yang aku rasakan.*
*Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang di iinginkan selama aku mampu.
Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu.Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, ....you are the only one in my heart.*
*yours,*
*Mario*
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat.
Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan
menyayangiku.....Suamiku tidak pernah mencintaiku..... Dia tidak pernah bahagia bersamaku...... Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan dilemari bajuku..tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua.Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu.Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
..... Setahun kemudian......
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang.Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
" *Mario, suamiku..*
*Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku...*
*Ternyata aku keliru..
aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.*
*Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, "
kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"*
*Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.*
*Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku.
Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkauminginkan.*
*Istrimu,*
*Rima"*
*D*i surat yang lain,
*"...Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha.."*
Disurat yang kesekian,
*"...Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.*
*Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu,aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi.Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros,dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu.
Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu,untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi,aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah...*
*Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya...."
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini.
*"......Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9.Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang,karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia... Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup,karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.*
*Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.*
*Tahukah engkau suamiku,*
*Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah,baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?..."*
Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya,dari jauh aku
melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu,dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi.. aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante...aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.." Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi.
Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
*Dear Meisha,*
*Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya.Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar..
Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?*
*Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha.
Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana.Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku..*
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. *Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.*
Jakarta, 7 Januari 2009
(dedicated to my friend....may you rest in peace...)
SUMPAH! ini cerita sedih banget /sob
< kalo mw baca, saya sarankan yg lagi mod baca cerita aja
takut bosan liat tulisan panjang kyk bgini :D >
25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.
Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami
ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam
tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa
sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa d! an salam
sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur
karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku
sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku..
Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia.
22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan
keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya
momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia
bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi
baik hingga dia tampak ! sempurna. Kulitnya masih merah,
mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak
dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus
bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak
mau menerima kami.. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk
memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin,
suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.
19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang
berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke
kursi la! lu dari kursi ke lantai kemudian berteriak
'Horeee, Iya bisa terbang'. Begitulah dia
memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu
merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak
jarang berteriak, 'Iya sayaaang,' jika sudah
terdengar suara 'Prang'. Itu artinya, ada yang
pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca..
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat
dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya
terpental. Dan dia cuma bilang 'Kenapa semua kaca di
rumah ini selalu pecah, Ma?'
18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal
dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin
lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi
jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya.
'Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain
bola!' tapi aku tidak suka dia menangis terus minta
bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku
bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang
sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola
itu. 'Horee, Iya jadi pemain bola.'
17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan.
Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak
akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak
tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku
tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari
sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola
sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah
jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku
mengalahkan kehati-hatianku dan 'Iyaaaa'. Sebuah
truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya
berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku
sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang
kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku
bekerja sementara
pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah
konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata
'Coba kalau kamu tak belikan ia bola!'
15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang
pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan
menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya
mulai banyak dibe! ntak. Aku hanya bisa membelainya. Dan
bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat
marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku
tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar
negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk
mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan
dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia
memang pergi ke Malaysia .
13 tahun yang lalu,
Setahun sejak keper! gian Kania, keuangan rumahku sedikit
membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar
kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk
SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.
Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa
melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan
pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku
miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh
remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi
keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku
harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup
tegar.
10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.
Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu
sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan
hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.
'Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.' Mungkin
itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar
dia tidak marah walau tak urung menangis juga.
'Sabar ya, Nak!' hiburku.
'Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak
diganggu!' pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku
maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam
hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari
kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah
semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak
pernah menunjukkan
kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di
bangku SMP.!
7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku,
kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar
kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika
aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang
membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi
TKI ke Malaysia . Sulit baginya mencari pekerjaan di sini
yang cuma lulusan SMP.. Haruskah aku melepasnya karena
alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai
habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan
rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah
itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha
kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak
kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku
baik-baik saja.
4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat ! mengirimi aku uang. Hampir tiga
tahun dia di sana . Dia bekerja sebagai seorang pelayan di
rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan
laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan
sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu
adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah
ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.
Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca
dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu
hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa
salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat
tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti
setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin
untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih
pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.
3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian
pemerintahan Malaysia , kabarnya anakku ditahan. Dan dia
diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami
majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis,
aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin
membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta
bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari
maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku
selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku
hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia
memang bersalah.
2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah.
Dan dia harus menjalani ! hukuman gantung sebagai
balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis
sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya
tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah
keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.
Wahai Allah kuatkan aku.
Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia .
Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya.
Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak.
Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada.. Aku
masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke
arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
'Bapak, Iya Takut!' aku memeluknya lebih erat
lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.
'Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?'
'Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya
tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia
jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan
, Pak!' Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib
anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa
apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku
dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku,
tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di
Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita
itu.
2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan
hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah
datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.
Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu
membuka papan yang diinjak anakku. Dan 'blass'
Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis.
Setelah yakin suda! h mati, jenazah anakku diturunkan
mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku.
Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku
mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air
mata aku melihat garis wajah yang kukenal.
'Kania?'
'Mas Har, kau ... !'
'Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!'
'Iya? Dia..dia . Iya?' serunya getir menunjuk
jenazah anakku.
'Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola
jika sudah besar.'
'Tidak ... tidaaak ... ' Kania berlari ke arah
jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit
histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan
secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia
diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya 'Terima kasih
Mama.' Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah
tahu wanita itu ibunya.
Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku.
Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir
kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan
di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang
mengantarkan
jenazahnya padaku, dia sering berteriak, 'Iya
sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.' Kamu tahu Kania,
kali ini yang pecah adalah hatiku.
TARIK NAFAS…. BACA ISTIGHFAR 3 KALI
.
oke, kita mulai…
——-
QmO dLaM iDopQhO (kamu dalam hidupku..)
q tWo……………… (aku tau……)
qMo mANk cLiD wAd cYanK m qHo…………. (kamu memang sulit buat sayang sama aku…)
tPhE qMo pLu tHwO„„„ (tapi kamu perlu tau….)
mY LuPi”………… (my love, cintaku -btw, lupi lupi di kuping aku kedengerannya kayak permen yupi)
aLwaYs 4’U…………… (always for you, cuman buat kamu)
cO’nA cMa qMo YaNk Co WaD qHo cYuM………… (soalnya cuma kamu yang cowo buat aku senyum -oke ni si ratu jelas jelas tidak mengikuti kaidah yang benar dalam membuat struktur kalimat)
k’tHwA„„„„„„„„„„ (ketawa…)
n cNeNk…………….. (dan senang)
tHanKz b’4„„„„„„ (thanks before, terimakasih sebelumnya)
yOz aLaWAiCe d bEzT……………. (you always the best, kamu selalu yang terbaik -ALAWAICE? HAHAHAHAHA LOL)
iN meYe heArD„„„„„„, (in my heart, dalam hatiku -btw MEYE? APA ITU HAHA)
tHo_tHo………….. (dadah -ini dadah doang ribet banget nulisnya)
LupHz yOu„„„„„„, (love you, sayang kamu)
bU_bU„„„„„„(bubu)
——————————————
I’m ReGrEeEeeEEeeEet nOw……………. (aku menyesal sekarang, huruf ee nya banyak bgt kaya yg mencret)
naFaZ„„„„„„„„„, (napas)
bNcHi qOh nGmBAnK………………. (benci aku ngambang -oke si ratu uda mulai jorok, ngambang ngambang)
hOeKkkKKk…………….. (sound effect muntah, HOEEEKK -tuh kan muntah HAHA)
.
nPhA jDe gnE??????????????? (mengapa jadi begini?)
i dOn’t LiKe tHaT………….. (I don’t like that, aku tidak suka itu)
qOh g Mo iDoP dLAM kmNfqAn………. (aku ga mau hidup dalam kemunafikan -WUESSS angin berhembus)
tHiZ iZ buLLsHiT!!!!!!!!!!! (this is bullshit!, ini semua omong kosong!!! -penuh amarah membara)
sHiT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
SADAM WITHOUT WORD!!!!!!!!!!!!!!!!!!! (sadam without word, sadam tanpa kata -WTF tiba tiba bawa sadam? ato DIAM maksudnya? OH DIAM DEH KAYAKNYA. bzzzzzzt)
HAifTf……………… (huff)
—————————————–
TaKe mE 2 yOuR hEaRtZzz??????????????????
cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa……. (sayang kamu tuh sakitnya…)
m_tHa apOn YoH……………… (minta ampun ya…)
qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo………. (aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu…)
bUD„„„„„„„„„, (but, tetapi…)
hUhuHuHfTFTf………….. .. (huft huft -ehem ratu centil deh)
cIa” adJA………………… (sia sia aja -CIA? hahahah)
shIt???????????? (TA*??????)
maYbe??????????????? (maybe, mungkin?????)
ckIdDDdddDDDd„„„„„„, „„„„„„„„„„„„„ „„ (SAKIIIIIIT! -ini ngomong sakit doang kayak suara ban ngerem!!)
pGEn qOh tO bLanK…………………….. (pengen aku tuh bilang)
U bLOkE mY hEaLtH!!!!!!!!!!!!!!!! (you bloke my health, kamu cowo kesehatanku, atau kamu merusak kesehatanku? -HAHAHAHAHA YOU BROKE MY HEART KOK JADI YOU BLOKE MY HEALTH? jauh gitu artinyaaaa! LOL)
i tHinK…………….. (aku pikir…)
it’Z DISGUSTING vOiCE……………….. (itu suara menjijkan -naon deui si ratu ga nyambung)
anDeE…………………. (andaiii…)
adJA g2 dRe wAL…………….. (aja gitu dari awal)
qTaH gAg mKeN dIEM”aN gNe tOh???!?@??@?@??@@?@? (kita ga makin diem dieman gini tho’?)
##BEner2 ribet bacanya..., mesti pake translate bahasa planet...., gua aja bacanya pusing bgt
Saya belajar,
Bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai…
Saya belajar,
Bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya….
Saya belajar,
Bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik…
Saya belajar,
Bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat, justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali serta orang yang begitu perhatian pada saya…
Saya belajar,
Bahwa persahabatan senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati….
Saya belajar,
Bahwa jika seseorang tidak menunjukan perhatian yang seperti saya inginkan,
Bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya….
Saya belajar,
Bahwa sebaik-baiknya pasangan itu, mereka pasti pernah melukai perasaan saya….
Dan untuk itu saya harus memaafkannya…
Saya belajar,
Bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain…, kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus…
Saya belajar,
Bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang telah saya lakukan….
Saya belajar,
Bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda….
Saya belajar,
Bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya…
Saya belajar,
Bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan kecuali saya ingin sakit hati…
Saya belajar,
Bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi, atau sikap dan emosi itu yang mengusai diri saya….
Saya belajar,
Bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis…..
Saya belajar,
Bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai…
Saya belajar,
Bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering diambil segera dari kehidupan saya….
Love doesn’t make the world go round..
Love is what makes the ride worth while..
Vanga (Vangelia) Pandeva lahir pada 31 Januari 1911 dan menghabiskan hidupnya di Bulgaria sampai meninggal pada 11 Agustus 1996. Ia kehilangan penglihatannya ketika berusia 12 tahun. Saat itu ia tersapu tornado dan ditemukan dalam kondisi hidup, namun matanya penuh pasir. Itulah yang akhirnya membuat kedua matanya buta.
Vanga mulai membuat prediksi ketika berusia 16 tahun. Dia menjadi sangat terkenal karena bisa meramalkan masa depan. Banyak negarawan, termasuk Hitler pernah mengunjunginya. Bahkan, dilaporkan bahwa Hitler meninggalkan rumah Vanga dengan raut muka tampak sedih.
Salah satu prediksi Vanga yang paling mengejutkan dunia diungkapkannya pada tahun 1980:
“Pada pergantian abad, pada bulan Agustus 1999 atau 2000, Kursk akan ditutupi dengan air, dan seluruh dunia akan menangis di atasnya.”
Sungguh prediksi yang tidak masuk akal saat itu. Sayangnya, dua puluh tahun kemudian, hal itu benar-benar terjadi, ketika kapal selam nuklir Rusia tenggelam dalam kecelakaan pada bulan Agustus 2000. Kapal selam itu bernama Kursk, nama sebuah kota di Rusia. Itulah yang membuat semua orang tidak percaya awalnya. Persepsi mereka yang diramalkan Vanga adalah kota Kursk. Ternyata kapal Kursk.
Pada tahun 1989, Vanga pernah berkata, “Mengerikan! Sungguh Mengerikan! Saudara-saudara Amerika akan jatuh setelah diserang oleh burung-burung baja. Serigala akan melolong dalam semak, dan darah tak berdosa akan mengalir deras,”.
Terjadi seperti yang diperkirakan. World Trade Center (WTC) Towers di New York runtuh setelah serangan teroris pada 11 September 2001. WTC Towers yang dijuluki “Gedung Kembar” atau “Brothers.” Para teroris mengantar penumpang pesawat - “burung besi” - ke dalam menara. “Semak” jelas berkaitan dengan nama keluarga presiden AS saat itu.
Sebelum mengungkapkan ramalan-ramalan Vanga berikutnya, sebelumnya kami ingin memberitahukan bahwa apapun yang kami sampaikan di sini, Anda boleh sepakat atau tidak. Karena ini hanya sebuah prediksi atau ramalan seseorang yang memiliki kelebihan dan bukan untuk membuat Anda jadi paranoid atau mendahahului kehendak Allah SWT. Boleh percaya, boleh tidak. Tapi ada baiknya bila kita sekedar menunggu dan melihat .
Vanga meramalkan tentang meletusnya Perang Dunia ke-3 tahun 2010. Berdasarkan terawangnya, Perang Dunia ke-3 itu terjadi karena konflik akibat percobaan pembunuhan terhadap empat kepala Negara, yakni Ukraina, Estopnia, Lituania dan Polandia yang bagian ke Georgia. Perang Dunia meletus setelah konflik yang terjadi di Hindustan (India).
Awalnya, perang tersebut hanya perang lokal antar Negara tetangga yang dimulai pada November 2010. Lalu perang itu merembet melibatkan banyak Negara, terjadi perang nuklir dan senjata kimia. Perang Dunia ke III ini akan selesai menjelang Oktober 2014.
Berikut ramalan-ramalan Vanga:
2008 - Upaya pembunuhan pada empat kepala negara. Konflik di India. Yang menjadi salah satu penyebab awal world war III (WWIII).
2010 - Awal WWIII. Perang akan dimulai pada bulan November 2010 dan akan berakhir pada bulan Oktober 2014. Akan mulai sebagai perang normal, maka akan mencakup penggunaan senjata nuklir dan kimia.
2011 - Karena hujan radioaktif di belahan bumi utara - tidak ada hewan atau tumbuh-tumbuhan akan tertinggal. Muslim akan memulai perang melawan Eropa dengan senjata kimia.
2014 - Sebagian besar orang di dunia ini akan terjangkit penyakit kanker kulit dan penyakit yang terkait. (sebagai akibat dari perang kimia) ,
2016 - Eropa hampir kosong
2018 - Cina menjadi kekuatan dunia baru.
2023 - Orbit Bumi akan berubah sedikit
2025 - Eropa masih belum ‘terisi’
2028 - Pengembangan sumber energi baru, Mungkin controller reaksi termonuklir. Kelaparan perlahan menjadi masalah. Misi pesawat luar angkasa bergeser ke Venus .
2033 - Topi es kutub mencair. Samudra dunia pasang.
2043 - Ekonomi dunia makmur. Muslim menguasai dan menjalankan Eropa.
2046 - Setiap organ dapat diproduksi secara massal. Pertukaran organ tubuh menjadi metode pengobatan favorit.
2066 - Selama serangan itu, Roma (yang berada di bawah kendali kaum muslimin) Amerika Serikat menggunakan metode baru senjata - ada hubungannya dengan perubahan iklim, ketajaman titik beku.
2076 - Tidak ada masyarakat kelas (komunisme)
2084 - Kelahiran kembali dari alam.
2088 - Penyakit baru, orang-orang mulai tua dalam beberapa detik.
2097 - Penyakit ini bisa disembuhkan.
2100 - Matahari menerangi sisi gelap planet bumi.
2111 - Orang-orang menjadi robot.
2123 - Perang di antara negara-negara kecil.
2125 - Di Lapar, Hungaria akan menerima sinyal-sinyal dari luar angkasa.
2130 - Koloni di bawah air
2154 - Hewan menjadi setengah manusia.
2167 - Muncul agama baru.
2170 - Kekeringan parah.
2183 - Koloni di Mars menjadi negara nuklir dan meminta kemerdekaan dari Bumi. (sama seperti AS dari Inggris)
2187 - Dua letusan gunung berapi berhasil dihentikan.
2195 - Koloni laut sepenuhnya memberi energi dan makanan.
2196 - Kendali campuran antara Asia dan Eropa.
2201 - Termonuklir reaksi di Matahari melambat, melemahkan suhu.
2221 - Alien mencari kehidupan, manusia terlibat dengan sesuatu yang sangat kacau.
2256 - Spaceship freighting membawa penyakit baru ke dalam bumi.
2262 - Orbit planet mulai berubah secara bertahap. Mars terancam ditabrak komet.
2271 - Hukum-hukum fisika berubah.
2273 - Timbul ras baru, campuran kuning, putih, dan ras kulit hitam.
2279 - Energi dari ketiadaan (mungkin dari vakum atau lubang hitam)
2288 - Perjalanan melalui waktu. Baru kontak dengan alien.
2291 - Matahari mendingin. Ada upaya untuk menyalakan lagi. (membuat matahari buatan?)
2296 - Matahari berhasil ‘dinyalakan”. Terjadi perubahan gaya gravitasi. Stasiun ruang angkasa yang tua dan satelit mulai berjatuhan
2299 - Di Perancis, ada pemberontakan partisan terhadap Islam.
2302 - Undang-undang baru dan misteri tentang alam semesta yang terungkap.
2304 - Misteri Bulan terungkap.
2341 - Sesuatu yang menakutkan, dari ruang angkasa menutup Bumi.
2354 - Kecelakaan di salah satu matahari buatan, akan mengakibatkan kekeringan.
2371 - Kelaparan.
2378 - Ras baru berkembang cepat.
2480 - Dua pria membuat matahari akan bertabrakan. Bumi berada dalam kegelapan.
3005 -Perang di Mars. Lintasan planet perubahan.
3010 -Komet akan ram ke Bulan. Sekitar Bumi ada sabuk dari batu dan debu
3797 -Pada saat ini, segala sesuatu yang hidup di bumi mati. Tetapi manusia dapat dimasukkan ke dalam hal-hal penting untuk memulai kehidupan baru di sistem bintang baru.
Sungguh, Anakku. Demi kebaikan kita berdua, dan demi rasa sayangku padamu, maka sebaiknya kau pergi. Kau bisa kutitipan pada pamanmu, bibimu, atau famili lainnya, tapi kurasa tidak denganku. Kutegaskan lagi: tidak denganku!
Bukannya aku tidak menyangimu, Anakku. Sungguh, berniat mengusirmu saja sudah menyayat perih hatiku. Bukan pula karena aku tidak sanggup menghidupimu. Gajiku sebagai tukang ketik sudah lebih dari cukup untuk kita berdua, Anakku, Mengertilah, Anakku, karena besarnya rasa sayangku padamu, maka kau memang harus pergi. Demi aku. Demi kamu. Dan demi rasa sayangku padamu.
"Mengertilah Anakku! Mengertilah betapa besar rasa sayangku padamu!"
|2|
Hari itu berita itu datang. Berita tentang kematian mantan suamiku yang seharusnya membuatku terbahak girang. Jelas aku benci dia—meskipun kuakui aku masih sedikit menyimpan rindu padanya! Semena-mena dia membuntingiku. Semena-mena pula dia menceraikanku. Padahal saat menikahinya, usiaku sama sekali belum genap tujuh belas. Lantas dengan entengnya dia menghakimiku sebagai istri pemabuk, istri penjudi, istri yang cuma bisa marah-marah tiap kali dia pulang kerja, dan—yang paling tidak bisa kuterima—istri yang tidak baik buat anak yang kulahirkan dari rahimku sendiri. Apa haknya memisahkanku dengan putraku satu-satunya? Bahkan sebelum dia bisa mengenalku sabagi ibunya! Sungguh, seharusnya aku mensyukuri penyakit jantung yang mencabut nyawanya, sekalipun masih ada sedikit rindu di kurasa. Tapi nyatanya, aku tidak bisa tertawa, tidak pula menangis.
Di hari yang sama pula aku mendapat kabar tentang anakku yang akhirnya kembali padaku. Tidak ada satupun famili dari bapaknya yang mau menampungnya, maka akulah yang ditimpahkan kuasa. Karena itu, tidak berlebihan rasanya bila ada sebagian dari diriku bersyukur atas kematian mantan suamiku itu. Sudah enam belas tahun dia memisahkanku dengan satu-satunya buah hatiku. Tidak sekalipun dia memberiku kesempatan bertemu, atau bahkan sekedar menelepon untuk mendengar suaranya. Lebih lagi, dia justru tega menjauhkannya ke tempat yang tidak akan pernah bisa kujangkau bahkan dalam mimpiku sekalipun. Aku pun tidak tahu sama sekali apakah putraku tahu sosok ibunya. Setidaknya aku cukup lega dengan berita ini yang artinya putraku tahu dia punya ibu. Walaupun begitu, aku takut untuk tertawa, begitu pula menangis.
Aku cuma bisa menunggu di sisi stasiun. Aku duduk di bangku tunggu dengan dandanan seadanya: tank top dan jins lusuh. Mungkin sudah sekitar dua jam aku duduk menunggu. Kuperhatikan satu per satu pemuda yang lalu lalang di depanku sambil sesekali kupampangkan karton putih bertuliskan nama anakku. Sudah batang rokok keempat kuhisap habis, tapi belum muncul juga sosok pemuda yang menangkap tulisan yang kupegang. Kuputuskan untuk menyulut rokok ke lima. Ketika itu ada suara lelaki menghampiriku.
“Ibu?”
Aku tergugu melihat sosok pemuda di sampingku. Ukiran wajahnya serupa persis mantan suamiku ketika muda dulu.
|3|
Sore itu aku duduk-duduk di teras dengan putraku. Sebatang rokok kembali tersulut di tangan kananku. Aku tak bisa berhenti menatap bentuk wajahnya yang benar-benar mampu memutar kembali ingatan masa mudaku. Sementara putraku, jelas sekali dia gugup. Sesekali dia membuka novel tebal di tangannya. Beberapa menit kemudian dia menutupnya lalu mencuri-curi pandangan ke arahku. Tidak lama kemudian dia membuka novelnya lagi. Itu yang dilakukannya berulang-ulang. Mungkin dia masih belum terbiasa di dekatku.
“Sejak kapan Ibu merokok?” Dengan lugunya putraku mengajukan pertanyaan pertamanya padaku. Kulihat dia masih canggung berbicara denganku.
Kulempar senyum kecil. “Ibu dulu pecandu wiski, makanya bapakmu pergi. Ibu merokok biar gak mabuk lagi.”
“Ibu di sini cuma tinggal sendiri?”
“Iya.” aku terdiam sejenak. “Ada pembantu, tapi cuma sampai siang.”
Lalu keheningan kembali menyeruak lagi. Aku terus menatapnya sembari membandingkan dengan sosok muda suamiku dalam ingatan. Sedangkan dia terus saja salah tingkah dan tampaknya belum bisa sanai berada di dekatku.
“Sudah punya pacar?” tanyaku dengan suara lirih.
“Belum.” jawabnya dengan suara yang tidak kalah kecil.
“Ganteng, tinggi, bapaknya berduit pula, kok belum punya?”
“Belum ada yang kena.”
“Ooo.” Aku kembali menatapnya lekat. Diam-diam, kucari sosok suamiku di dalam dirinya.
Hari-hari berikutnya dia terasa semakin terbuka padaku. Memang, kulihat dia masih canggung melihat beberapa kebiasaanku: memaki-maki pembantu, mengepulkan asap rokok sebelum sarapan, memakai pakaian seksi, dan selalu uring-uringan. Tapi biarlah kubiarkan dia membiasakan diri dengan kebiasaanku. Dia sempat melempar pertanyaan lucu seputar usiaku. Menurutnya, rupaku tidak seperti layaknya wanita-wanita tiga puluh tahun lainnya. Aku tertawa kecil mendengarnya. Pujian serupa memang sering kudapatkan, terutama dari lelaki-lelaki hidung belang di tempatku bekerja yang selalu kutolak mentah-mentah ajakan makannya. Bedanya, pujian dari putrakku mampu menimbulkan semacam perasaan hangat di dadaku. Kuakui, kedatangannya seakan mampu memantik kembali rona masa mudaku yang rasanya tak mungkin kudapat lagi. Wajar saja, sudah hampir enam belas tahun hidupku tidak disinggahi lelaki.
Hari itu juga kuantar dia mendaftar di SMU terdekat. Di jalan, kusadari mata-mata penggunjing penguasa kompleks mengintaiku dari segala penjuru. Mata-mata itu memang selalu mencari-cari celah keburukanku untuk dibicarakan berjam-jam bahkan berhari-hari. Kurasa, alasan mereka—entah diakui atau tidak—menggunjingkanku murni karena mereka iri denganku. Aku ingat pernah suatu hari kutegaskan pada mereka:
“Badanku ramping karena aku sarapan dengan rokok dan wiski, bukan dengan nasi!” Ketika mendengar jawaban itu, mereka mematung dan bola mata mereka seakan-akan hendak meloncat keluar.
Begitu pula sekarang ini, bisa kupastikan berita bahwa diriku berjalan berdua dengan seorang pemuda tampan tidak dikenal akan tersebar kilat ke penjurut kompleks. Tapi, sungguh, sekarang aku sudah sangat muak dan aku tidak akan peduli lagi dengan mata-mata mereka yang selalu siap mengintaiku.
Malam harinya, ketika putraku sudah tertidur pula di kamar tamu yang sudah disulap jadi kamar pribadinya, aku menghampirinya sejenak. Aku duduk di sisi ranjang. Kututupi tubuhnya dengan selimut. Kutatapi wajahnya sejenak. Lagi-lagi, muncul perasaan hangat yang membangkitkan kembali gairah masa mudaku. Perasan itu mendesir cepat melewati nadi-nadiku. Kubaringkan tubuhku di sampingnya.
|4|
Sudah seminggu berjalan, aku dan putraku pun sudah semakin memahami tabiatku. Kuizinkan dia memanggilku dengan namaku, karena nadanya ketika memanggilku dengan kata “ibu” selalu terdengar canggung. Aku pun semakin memahami beberapa hal tentangnya. Sebenarnya, dia tidak selugu dan sepolos yang terlihat. Terbukti ketika dua hari yang lalu dia mengagetkanku dengan menanyakan izin merokok. Tentu kuizinkan. Aku tidak melihat salahnya. Justru kami berbagi puntung rokok bersama. Kami mengecup bekas bibir masing-masing yang tercetak di filter rokok. Atau ketika dia kudapati tengah diam-diam menyaksikan vidio porno di telepon genggamnya. Wajahnya memerah ketika tertangkap basah. Aku hanya tersenyum kecil melihat bercak basah di celananya.
Namun, semakin aku mengenal putraku, semakin hebat aliran gairah mendesir kembali di sekujur tubuhku. Ketika dia menatapku, yang kurasa bukanlah tatapan seorang anak, melainkan tatapan seorang pemuda. Begitu pula nada biacaranya padaku. Di saat yang bersamaan, kurasakan juga rasa bersalah mengalir sama cepatnya dengan gairah.
Sore ini, kudapati putraku baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya sehelai handuk membalut bagian bawah tubuhnya. Desiran gairah dan rasa bersalah itu pun muncul lagi. Lebih-lebih ketika dia menatapku dengan tatapan lelaki. Tapi aku harus memilih. Kuputuskan untuk memilih.
Aku harus memilih.
“Mengertilah Anakku! Mengertilah betapa besar rasa sayangku padamu!”
Kulihat dia terdiam.
“Kamu harus pergi, Nak.”
Kutundukkan kepalaku. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertingkah sesentimentil ini. Dia mendekatiku. Mendekapku. Menegakkan kepalaku dengan kedua tangannya. Dia melayangkan kecupan hangat di pipiku. Di saat itu juga gairah mendesir semakin kuat mengalahkan rasa bersalahku. Dia melayangkan kecupan lagi di pipiku. Lalu merambat ke bibirku. Kuterima kecupannya. Disaksikan sinar lampu kami pun bercumbu.
Di akhir adegan dia membisikkan kata halus di telingaku:
“Aku cinta Ibu.”
|5|
Sejak saat itu, tidak ada batasan lagi yang terasa dari hubunganku dengan putraku. Berciuman sepulang kerja sudah menjadi rutinitas kami. Bahkan, malam harinya, kami melanjutkan kemesraan di tempat tidur layaknya sepasang kekasih. Ya, kami kekasih, sekalipun tidak ada pengikraran yang resmi. Bahkan, tidak jarang pembantu mendapati kami keluar berdua dari kamar hanya berbalut pakaian dalam. Wajahnya selalu tercengang. Tapi aku tahu dia tidak akan berani komentar macam-macam.
Namun, rasa bersalah ternyata tidak bisa mati begitu saja. Rasa bersalah masih tetap kurasakan menyelinap di bilik-bilik jantungku menunggu waktu yang tepat untuk menikamku. Rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi ketika aku tanpa sengaja mendengar gunjingan-gunjingan tentang hubunganku dengan putraku. Gunjingan-gunjingan itu selalu dibumbui kata-kata tidak sedap tentang diriku. Dan cara mereka menatapku seakan-akan menunjuk bahwa aku seorang makhluk hina dan menjijikkan.
Rasa bersalah telah telak menyerang sisi vitalku pagi tadi. Salah seorang rekan kerja yang sempat tergila-gila padaku melayangkan sebuah kalimat yang membuatku harus melempar tamparan ke pipinya.
“Anakkmu gigolo ya?”
Aku bergegas pulang. Aku tidak bisa menahan tatapan-tatapan yang memandangku rendah. Kalimat itu meyakinkan betapa aku telah merusak anakku sendiri. Kubayangkan ketidakwarasan yang mungkin terjadi bila hubungan tidak sehat ini terus berlanjut. Kubayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa menimpa putraku di masa depan nanti.
Mataku mulai sayup. Botol obat tidur yang sudah kosong menggelinding dari tanganku. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, kubaca kembali surat yang telah kutulis sebelumnya.
“Ini semua kesalahanku, bukan putraku. Aku yang menekannya untuk melakukan semua itu. Aku yang memaksanya.”
Perlahan-lahan cahaya mulai redup dari penglihatanku. Kulakukan semua ini demi menyelamatkanmu, Anakku. Labels: Novel
Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati (sahabat) tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk berterima kasih padanya.
Karena ialah yang membantu mengubah hidupmu
Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Tersenyumlah dengan wajar .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang cinta
Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.
Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.
Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu
Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan
Dan Saat engkau bertemu seseorang yang saat ini menemanimu seumur hidup (suami / istri) kita,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati yang kau cari.
Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu………..????
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda……
Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi………
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak………
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini……
Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang……
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari……mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar………….
Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu………
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu………..????
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita……
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita……
Usia kitapun beranjak perlahan……
Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah……???
Setiap pagi, Bunda selalu memandikan kita,………menyuapi kita………mengantar kita dan menunggui kita……
Bunda begitu sabar mengiringi hari kita di sekolah……
Dan kita hanya bermain ketika itu……
Lalu ketika kita beranjak remaja………
Bundapun tak henti untuk menghawatirkan kita……
Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan……
Bunda hanya menatap dengan penuh cemas……
Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana……
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri………
Sering bunda membelikan kita baju, sepatu, celana baru………
Dengan harapan kita akan merasa senang……
Ingatkah pula apa kata kita ketika itu………..
“Ah….bajunya udah kuno gak mau ah” bunda ‘nggak tau selera anak muda…
dan bunda hanya tersenyum saja……
Saat kita mengenal cinta akan sesama………
Sering kita membohongi bunda hanya untuk bercinta semata……
Dan bundapun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita……
Ketika bunda bilang………”Nak…….mestinya kamu sekolah dulu yang benar….jangan dulu berpacaran….””
Lantas kita hanya menjawab ”bu, saya udah gede, saya tau apa yg baik buat saya, ibu jangan terlalu mengatur saya dong!!”
Bunda hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang…
Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…
Bunda dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit…
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa……
Ketika kita butuh uang utk menuntaskan hasrat cinta muda kita……
Sekali lagi kita sering membohongi bunda……
dengan mengatakan….”bu……saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….seki
Lalu bunda bilang………….”nak…….apa tidak bisa di cicil…??
Kita dengan segera menjawab…..”gak bisa bu….harus sekali bayar……..”
Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak bunda ketika itu……
Jika saja bunda tahu bahwa itu hanyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja…
Dan ternyata bunda selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita.
Pada saat kita lulus kuliah………
Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya bunda mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia bunda ketika itu
Lalu tak lama setelah itu……tiba-taba….
“Bu….sekarang saya sudah dewasa……saya ingin menikahi si anu……….karena saya mencintai dia………boleh kan bu……..?”
Mungkin bunda akan bilang ; ”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah”
Lalu apa jawab kita; ”Bu! kalo ibu percaya, .saya sanggup untuk memberikan makan dia tanpa ibu kasih, saya harap ibu tidak melarang niat saya untuk menikah sekarang, saya sudah dewasa bu, bukan anak kecil yang segalanya harus ibu perhatikan!! !”
Dan demi kasih sayangnya terhadap kita, maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita, sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti.
Tak berapa lama setelah itu, kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda.
Pada saat bunda sudah memasuki hari tuanya, kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya.
Dan bunda tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena bunda pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri.
Bertahun-tahun kita meninggalkan bunda dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia, itupun pada saat Hari Raya saja.
Lalu, ketika Bunda sakit di hari tuanya,
Mungkin bunda mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia.
Tapi, sering kita mengabaikan harapan bunda……
Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu, .maka dengan tanpa ragu lagi kita antarkan bunda pada sebuah panti jompo, kita tinggalkan bunda dengan segala harapannya terhadap kita.
Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia, kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita.
Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa bunda telah tiada.
Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini.
Ada sesal mungkin di sana, .sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita.
Dan kitapun hanya meratapi kepergian bunda, ya bunda yang sudah mencetak kita dengan segenap kasih sayang bunda yang tak terperi ketulusannya, sesal yang tiada guna ketika kita tahu bunda pergi bersama setitik harapan bunda bahwa dia ingin anaknya ada ketika hembusan nafasnya yang terakhir memutuskan kehidupannya.
Dan kita hanya terpekur menatap bekunya batu nisan bertahtakan nama bunda. Itupun jika masih ada secuil nurani kita yang masih berwarna putih.
Kutuliskan ini, untuk mengenang bahwa bunda adalah pembawa syurga buat anaknya, mungkin ini tak semua benar, tapi tak mustahil ini terjadi dan ada di dunia ini.
Bunda, .aku menyayangi bunda seperti aku menyayangi syurgaNYA.
Maafkan anakmu ya bunda.
Peluk cium anakmu selalu.
Pertama baca yg prtma krasa adlh pnyesalan yg luar biasa besar atas smua dosa yg prnah ak lakukan slama ini kpada manusia plg brharga d dunia ini,Ibuku. Utk saat ini bundaku Alhamdulillah msh sehat wal'afiat, smga renungan ini brmanfaat utk siapapun yg membacanya utk sllu mnjdi anak yg brbakti pada org tuanya, smoga rahmat dan hidayahNya sll dipancarkan utk kita smua Amin....
