SUMPAH! ini cerita sedih banget /sob
< kalo mw baca, saya sarankan yg lagi mod baca cerita aja
takut bosan liat tulisan panjang kyk bgini :D >
25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.
Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami
ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam
tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa
sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa d! an salam
sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur
karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku
sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku..
Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia.
22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan
keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya
momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia
bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi
baik hingga dia tampak ! sempurna. Kulitnya masih merah,
mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak
dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus
bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak
mau menerima kami.. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk
memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin,
suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.
19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang
berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke
kursi la! lu dari kursi ke lantai kemudian berteriak
'Horeee, Iya bisa terbang'. Begitulah dia
memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu
merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak
jarang berteriak, 'Iya sayaaang,' jika sudah
terdengar suara 'Prang'. Itu artinya, ada yang
pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca..
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat
dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya
terpental. Dan dia cuma bilang 'Kenapa semua kaca di
rumah ini selalu pecah, Ma?'
18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal
dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin
lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi
jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya.
'Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain
bola!' tapi aku tidak suka dia menangis terus minta
bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku
bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang
sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola
itu. 'Horee, Iya jadi pemain bola.'
17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan.
Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak
akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak
tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku
tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari
sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola
sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah
jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku
mengalahkan kehati-hatianku dan 'Iyaaaa'. Sebuah
truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya
berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku
sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang
kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku
bekerja sementara
pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah
konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata
'Coba kalau kamu tak belikan ia bola!'
15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang
pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan
menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya
mulai banyak dibe! ntak. Aku hanya bisa membelainya. Dan
bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat
marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku
tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar
negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk
mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan
dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia
memang pergi ke Malaysia .
13 tahun yang lalu,
Setahun sejak keper! gian Kania, keuangan rumahku sedikit
membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar
kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk
SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.
Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa
melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan
pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku
miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh
remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi
keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku
harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup
tegar.
10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.
Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu
sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan
hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.
'Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.' Mungkin
itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar
dia tidak marah walau tak urung menangis juga.
'Sabar ya, Nak!' hiburku.
'Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak
diganggu!' pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku
maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam
hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari
kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah
semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak
pernah menunjukkan
kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di
bangku SMP.!
7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku,
kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar
kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika
aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang
membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi
TKI ke Malaysia . Sulit baginya mencari pekerjaan di sini
yang cuma lulusan SMP.. Haruskah aku melepasnya karena
alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai
habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan
rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah
itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha
kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak
kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku
baik-baik saja.
4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat ! mengirimi aku uang. Hampir tiga
tahun dia di sana . Dia bekerja sebagai seorang pelayan di
rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan
laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan
sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu
adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah
ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.
Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca
dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu
hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa
salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat
tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti
setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin
untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih
pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.
3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian
pemerintahan Malaysia , kabarnya anakku ditahan. Dan dia
diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami
majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis,
aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin
membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta
bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari
maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku
selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku
hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia
memang bersalah.
2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah.
Dan dia harus menjalani ! hukuman gantung sebagai
balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis
sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya
tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah
keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.
Wahai Allah kuatkan aku.
Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia .
Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya.
Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak.
Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada.. Aku
masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke
arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
'Bapak, Iya Takut!' aku memeluknya lebih erat
lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.
'Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?'
'Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya
tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia
jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan
, Pak!' Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib
anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa
apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku
dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku,
tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di
Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita
itu.
2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan
hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah
datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.
Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu
membuka papan yang diinjak anakku. Dan 'blass'
Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis.
Setelah yakin suda! h mati, jenazah anakku diturunkan
mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku.
Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku
mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air
mata aku melihat garis wajah yang kukenal.
'Kania?'
'Mas Har, kau ... !'
'Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!'
'Iya? Dia..dia . Iya?' serunya getir menunjuk
jenazah anakku.
'Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola
jika sudah besar.'
'Tidak ... tidaaak ... ' Kania berlari ke arah
jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit
histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan
secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia
diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya 'Terima kasih
Mama.' Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah
tahu wanita itu ibunya.
Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku.
Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir
kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan
di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang
mengantarkan
jenazahnya padaku, dia sering berteriak, 'Iya
sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.' Kamu tahu Kania,
kali ini yang pecah adalah hatiku.
TARIK NAFAS…. BACA ISTIGHFAR 3 KALI
.
oke, kita mulai…
——-
QmO dLaM iDopQhO (kamu dalam hidupku..)
q tWo……………… (aku tau……)
qMo mANk cLiD wAd cYanK m qHo…………. (kamu memang sulit buat sayang sama aku…)
tPhE qMo pLu tHwO„„„ (tapi kamu perlu tau….)
mY LuPi”………… (my love, cintaku -btw, lupi lupi di kuping aku kedengerannya kayak permen yupi)
aLwaYs 4’U…………… (always for you, cuman buat kamu)
cO’nA cMa qMo YaNk Co WaD qHo cYuM………… (soalnya cuma kamu yang cowo buat aku senyum -oke ni si ratu jelas jelas tidak mengikuti kaidah yang benar dalam membuat struktur kalimat)
k’tHwA„„„„„„„„„„ (ketawa…)
n cNeNk…………….. (dan senang)
tHanKz b’4„„„„„„ (thanks before, terimakasih sebelumnya)
yOz aLaWAiCe d bEzT……………. (you always the best, kamu selalu yang terbaik -ALAWAICE? HAHAHAHAHA LOL)
iN meYe heArD„„„„„„, (in my heart, dalam hatiku -btw MEYE? APA ITU HAHA)
tHo_tHo………….. (dadah -ini dadah doang ribet banget nulisnya)
LupHz yOu„„„„„„, (love you, sayang kamu)
bU_bU„„„„„„(bubu)
——————————————
I’m ReGrEeEeeEEeeEet nOw……………. (aku menyesal sekarang, huruf ee nya banyak bgt kaya yg mencret)
naFaZ„„„„„„„„„, (napas)
bNcHi qOh nGmBAnK………………. (benci aku ngambang -oke si ratu uda mulai jorok, ngambang ngambang)
hOeKkkKKk…………….. (sound effect muntah, HOEEEKK -tuh kan muntah HAHA)
.
nPhA jDe gnE??????????????? (mengapa jadi begini?)
i dOn’t LiKe tHaT………….. (I don’t like that, aku tidak suka itu)
qOh g Mo iDoP dLAM kmNfqAn………. (aku ga mau hidup dalam kemunafikan -WUESSS angin berhembus)
tHiZ iZ buLLsHiT!!!!!!!!!!! (this is bullshit!, ini semua omong kosong!!! -penuh amarah membara)
sHiT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
SADAM WITHOUT WORD!!!!!!!!!!!!!!!!!!! (sadam without word, sadam tanpa kata -WTF tiba tiba bawa sadam? ato DIAM maksudnya? OH DIAM DEH KAYAKNYA. bzzzzzzt)
HAifTf……………… (huff)
—————————————–
TaKe mE 2 yOuR hEaRtZzz??????????????????
cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa……. (sayang kamu tuh sakitnya…)
m_tHa apOn YoH……………… (minta ampun ya…)
qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo………. (aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu…)
bUD„„„„„„„„„, (but, tetapi…)
hUhuHuHfTFTf………….. .. (huft huft -ehem ratu centil deh)
cIa” adJA………………… (sia sia aja -CIA? hahahah)
shIt???????????? (TA*??????)
maYbe??????????????? (maybe, mungkin?????)
ckIdDDdddDDDd„„„„„„, „„„„„„„„„„„„„ „„ (SAKIIIIIIT! -ini ngomong sakit doang kayak suara ban ngerem!!)
pGEn qOh tO bLanK…………………….. (pengen aku tuh bilang)
U bLOkE mY hEaLtH!!!!!!!!!!!!!!!! (you bloke my health, kamu cowo kesehatanku, atau kamu merusak kesehatanku? -HAHAHAHAHA YOU BROKE MY HEART KOK JADI YOU BLOKE MY HEALTH? jauh gitu artinyaaaa! LOL)
i tHinK…………….. (aku pikir…)
it’Z DISGUSTING vOiCE……………….. (itu suara menjijkan -naon deui si ratu ga nyambung)
anDeE…………………. (andaiii…)
adJA g2 dRe wAL…………….. (aja gitu dari awal)
qTaH gAg mKeN dIEM”aN gNe tOh???!?@??@?@??@@?@? (kita ga makin diem dieman gini tho’?)
##BEner2 ribet bacanya..., mesti pake translate bahasa planet...., gua aja bacanya pusing bgt
Saya belajar,
Bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai…
Saya belajar,
Bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya….
Saya belajar,
Bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik…
Saya belajar,
Bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat, justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali serta orang yang begitu perhatian pada saya…
Saya belajar,
Bahwa persahabatan senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati….
Saya belajar,
Bahwa jika seseorang tidak menunjukan perhatian yang seperti saya inginkan,
Bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya….
Saya belajar,
Bahwa sebaik-baiknya pasangan itu, mereka pasti pernah melukai perasaan saya….
Dan untuk itu saya harus memaafkannya…
Saya belajar,
Bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain…, kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus…
Saya belajar,
Bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang telah saya lakukan….
Saya belajar,
Bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda….
Saya belajar,
Bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya…
Saya belajar,
Bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan kecuali saya ingin sakit hati…
Saya belajar,
Bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi, atau sikap dan emosi itu yang mengusai diri saya….
Saya belajar,
Bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis…..
Saya belajar,
Bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai…
Saya belajar,
Bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering diambil segera dari kehidupan saya….
Love doesn’t make the world go round..
Love is what makes the ride worth while..
Vanga (Vangelia) Pandeva lahir pada 31 Januari 1911 dan menghabiskan hidupnya di Bulgaria sampai meninggal pada 11 Agustus 1996. Ia kehilangan penglihatannya ketika berusia 12 tahun. Saat itu ia tersapu tornado dan ditemukan dalam kondisi hidup, namun matanya penuh pasir. Itulah yang akhirnya membuat kedua matanya buta.
Vanga mulai membuat prediksi ketika berusia 16 tahun. Dia menjadi sangat terkenal karena bisa meramalkan masa depan. Banyak negarawan, termasuk Hitler pernah mengunjunginya. Bahkan, dilaporkan bahwa Hitler meninggalkan rumah Vanga dengan raut muka tampak sedih.
Salah satu prediksi Vanga yang paling mengejutkan dunia diungkapkannya pada tahun 1980:
“Pada pergantian abad, pada bulan Agustus 1999 atau 2000, Kursk akan ditutupi dengan air, dan seluruh dunia akan menangis di atasnya.”
Sungguh prediksi yang tidak masuk akal saat itu. Sayangnya, dua puluh tahun kemudian, hal itu benar-benar terjadi, ketika kapal selam nuklir Rusia tenggelam dalam kecelakaan pada bulan Agustus 2000. Kapal selam itu bernama Kursk, nama sebuah kota di Rusia. Itulah yang membuat semua orang tidak percaya awalnya. Persepsi mereka yang diramalkan Vanga adalah kota Kursk. Ternyata kapal Kursk.
Pada tahun 1989, Vanga pernah berkata, “Mengerikan! Sungguh Mengerikan! Saudara-saudara Amerika akan jatuh setelah diserang oleh burung-burung baja. Serigala akan melolong dalam semak, dan darah tak berdosa akan mengalir deras,”.
Terjadi seperti yang diperkirakan. World Trade Center (WTC) Towers di New York runtuh setelah serangan teroris pada 11 September 2001. WTC Towers yang dijuluki “Gedung Kembar” atau “Brothers.” Para teroris mengantar penumpang pesawat - “burung besi” - ke dalam menara. “Semak” jelas berkaitan dengan nama keluarga presiden AS saat itu.
Sebelum mengungkapkan ramalan-ramalan Vanga berikutnya, sebelumnya kami ingin memberitahukan bahwa apapun yang kami sampaikan di sini, Anda boleh sepakat atau tidak. Karena ini hanya sebuah prediksi atau ramalan seseorang yang memiliki kelebihan dan bukan untuk membuat Anda jadi paranoid atau mendahahului kehendak Allah SWT. Boleh percaya, boleh tidak. Tapi ada baiknya bila kita sekedar menunggu dan melihat .
Vanga meramalkan tentang meletusnya Perang Dunia ke-3 tahun 2010. Berdasarkan terawangnya, Perang Dunia ke-3 itu terjadi karena konflik akibat percobaan pembunuhan terhadap empat kepala Negara, yakni Ukraina, Estopnia, Lituania dan Polandia yang bagian ke Georgia. Perang Dunia meletus setelah konflik yang terjadi di Hindustan (India).
Awalnya, perang tersebut hanya perang lokal antar Negara tetangga yang dimulai pada November 2010. Lalu perang itu merembet melibatkan banyak Negara, terjadi perang nuklir dan senjata kimia. Perang Dunia ke III ini akan selesai menjelang Oktober 2014.
Berikut ramalan-ramalan Vanga:
2008 - Upaya pembunuhan pada empat kepala negara. Konflik di India. Yang menjadi salah satu penyebab awal world war III (WWIII).
2010 - Awal WWIII. Perang akan dimulai pada bulan November 2010 dan akan berakhir pada bulan Oktober 2014. Akan mulai sebagai perang normal, maka akan mencakup penggunaan senjata nuklir dan kimia.
2011 - Karena hujan radioaktif di belahan bumi utara - tidak ada hewan atau tumbuh-tumbuhan akan tertinggal. Muslim akan memulai perang melawan Eropa dengan senjata kimia.
2014 - Sebagian besar orang di dunia ini akan terjangkit penyakit kanker kulit dan penyakit yang terkait. (sebagai akibat dari perang kimia) ,
2016 - Eropa hampir kosong
2018 - Cina menjadi kekuatan dunia baru.
2023 - Orbit Bumi akan berubah sedikit
2025 - Eropa masih belum ‘terisi’
2028 - Pengembangan sumber energi baru, Mungkin controller reaksi termonuklir. Kelaparan perlahan menjadi masalah. Misi pesawat luar angkasa bergeser ke Venus .
2033 - Topi es kutub mencair. Samudra dunia pasang.
2043 - Ekonomi dunia makmur. Muslim menguasai dan menjalankan Eropa.
2046 - Setiap organ dapat diproduksi secara massal. Pertukaran organ tubuh menjadi metode pengobatan favorit.
2066 - Selama serangan itu, Roma (yang berada di bawah kendali kaum muslimin) Amerika Serikat menggunakan metode baru senjata - ada hubungannya dengan perubahan iklim, ketajaman titik beku.
2076 - Tidak ada masyarakat kelas (komunisme)
2084 - Kelahiran kembali dari alam.
2088 - Penyakit baru, orang-orang mulai tua dalam beberapa detik.
2097 - Penyakit ini bisa disembuhkan.
2100 - Matahari menerangi sisi gelap planet bumi.
2111 - Orang-orang menjadi robot.
2123 - Perang di antara negara-negara kecil.
2125 - Di Lapar, Hungaria akan menerima sinyal-sinyal dari luar angkasa.
2130 - Koloni di bawah air
2154 - Hewan menjadi setengah manusia.
2167 - Muncul agama baru.
2170 - Kekeringan parah.
2183 - Koloni di Mars menjadi negara nuklir dan meminta kemerdekaan dari Bumi. (sama seperti AS dari Inggris)
2187 - Dua letusan gunung berapi berhasil dihentikan.
2195 - Koloni laut sepenuhnya memberi energi dan makanan.
2196 - Kendali campuran antara Asia dan Eropa.
2201 - Termonuklir reaksi di Matahari melambat, melemahkan suhu.
2221 - Alien mencari kehidupan, manusia terlibat dengan sesuatu yang sangat kacau.
2256 - Spaceship freighting membawa penyakit baru ke dalam bumi.
2262 - Orbit planet mulai berubah secara bertahap. Mars terancam ditabrak komet.
2271 - Hukum-hukum fisika berubah.
2273 - Timbul ras baru, campuran kuning, putih, dan ras kulit hitam.
2279 - Energi dari ketiadaan (mungkin dari vakum atau lubang hitam)
2288 - Perjalanan melalui waktu. Baru kontak dengan alien.
2291 - Matahari mendingin. Ada upaya untuk menyalakan lagi. (membuat matahari buatan?)
2296 - Matahari berhasil ‘dinyalakan”. Terjadi perubahan gaya gravitasi. Stasiun ruang angkasa yang tua dan satelit mulai berjatuhan
2299 - Di Perancis, ada pemberontakan partisan terhadap Islam.
2302 - Undang-undang baru dan misteri tentang alam semesta yang terungkap.
2304 - Misteri Bulan terungkap.
2341 - Sesuatu yang menakutkan, dari ruang angkasa menutup Bumi.
2354 - Kecelakaan di salah satu matahari buatan, akan mengakibatkan kekeringan.
2371 - Kelaparan.
2378 - Ras baru berkembang cepat.
2480 - Dua pria membuat matahari akan bertabrakan. Bumi berada dalam kegelapan.
3005 -Perang di Mars. Lintasan planet perubahan.
3010 -Komet akan ram ke Bulan. Sekitar Bumi ada sabuk dari batu dan debu
3797 -Pada saat ini, segala sesuatu yang hidup di bumi mati. Tetapi manusia dapat dimasukkan ke dalam hal-hal penting untuk memulai kehidupan baru di sistem bintang baru.
Sungguh, Anakku. Demi kebaikan kita berdua, dan demi rasa sayangku padamu, maka sebaiknya kau pergi. Kau bisa kutitipan pada pamanmu, bibimu, atau famili lainnya, tapi kurasa tidak denganku. Kutegaskan lagi: tidak denganku!
Bukannya aku tidak menyangimu, Anakku. Sungguh, berniat mengusirmu saja sudah menyayat perih hatiku. Bukan pula karena aku tidak sanggup menghidupimu. Gajiku sebagai tukang ketik sudah lebih dari cukup untuk kita berdua, Anakku, Mengertilah, Anakku, karena besarnya rasa sayangku padamu, maka kau memang harus pergi. Demi aku. Demi kamu. Dan demi rasa sayangku padamu.
"Mengertilah Anakku! Mengertilah betapa besar rasa sayangku padamu!"
|2|
Hari itu berita itu datang. Berita tentang kematian mantan suamiku yang seharusnya membuatku terbahak girang. Jelas aku benci dia—meskipun kuakui aku masih sedikit menyimpan rindu padanya! Semena-mena dia membuntingiku. Semena-mena pula dia menceraikanku. Padahal saat menikahinya, usiaku sama sekali belum genap tujuh belas. Lantas dengan entengnya dia menghakimiku sebagai istri pemabuk, istri penjudi, istri yang cuma bisa marah-marah tiap kali dia pulang kerja, dan—yang paling tidak bisa kuterima—istri yang tidak baik buat anak yang kulahirkan dari rahimku sendiri. Apa haknya memisahkanku dengan putraku satu-satunya? Bahkan sebelum dia bisa mengenalku sabagi ibunya! Sungguh, seharusnya aku mensyukuri penyakit jantung yang mencabut nyawanya, sekalipun masih ada sedikit rindu di kurasa. Tapi nyatanya, aku tidak bisa tertawa, tidak pula menangis.
Di hari yang sama pula aku mendapat kabar tentang anakku yang akhirnya kembali padaku. Tidak ada satupun famili dari bapaknya yang mau menampungnya, maka akulah yang ditimpahkan kuasa. Karena itu, tidak berlebihan rasanya bila ada sebagian dari diriku bersyukur atas kematian mantan suamiku itu. Sudah enam belas tahun dia memisahkanku dengan satu-satunya buah hatiku. Tidak sekalipun dia memberiku kesempatan bertemu, atau bahkan sekedar menelepon untuk mendengar suaranya. Lebih lagi, dia justru tega menjauhkannya ke tempat yang tidak akan pernah bisa kujangkau bahkan dalam mimpiku sekalipun. Aku pun tidak tahu sama sekali apakah putraku tahu sosok ibunya. Setidaknya aku cukup lega dengan berita ini yang artinya putraku tahu dia punya ibu. Walaupun begitu, aku takut untuk tertawa, begitu pula menangis.
Aku cuma bisa menunggu di sisi stasiun. Aku duduk di bangku tunggu dengan dandanan seadanya: tank top dan jins lusuh. Mungkin sudah sekitar dua jam aku duduk menunggu. Kuperhatikan satu per satu pemuda yang lalu lalang di depanku sambil sesekali kupampangkan karton putih bertuliskan nama anakku. Sudah batang rokok keempat kuhisap habis, tapi belum muncul juga sosok pemuda yang menangkap tulisan yang kupegang. Kuputuskan untuk menyulut rokok ke lima. Ketika itu ada suara lelaki menghampiriku.
“Ibu?”
Aku tergugu melihat sosok pemuda di sampingku. Ukiran wajahnya serupa persis mantan suamiku ketika muda dulu.
|3|
Sore itu aku duduk-duduk di teras dengan putraku. Sebatang rokok kembali tersulut di tangan kananku. Aku tak bisa berhenti menatap bentuk wajahnya yang benar-benar mampu memutar kembali ingatan masa mudaku. Sementara putraku, jelas sekali dia gugup. Sesekali dia membuka novel tebal di tangannya. Beberapa menit kemudian dia menutupnya lalu mencuri-curi pandangan ke arahku. Tidak lama kemudian dia membuka novelnya lagi. Itu yang dilakukannya berulang-ulang. Mungkin dia masih belum terbiasa di dekatku.
“Sejak kapan Ibu merokok?” Dengan lugunya putraku mengajukan pertanyaan pertamanya padaku. Kulihat dia masih canggung berbicara denganku.
Kulempar senyum kecil. “Ibu dulu pecandu wiski, makanya bapakmu pergi. Ibu merokok biar gak mabuk lagi.”
“Ibu di sini cuma tinggal sendiri?”
“Iya.” aku terdiam sejenak. “Ada pembantu, tapi cuma sampai siang.”
Lalu keheningan kembali menyeruak lagi. Aku terus menatapnya sembari membandingkan dengan sosok muda suamiku dalam ingatan. Sedangkan dia terus saja salah tingkah dan tampaknya belum bisa sanai berada di dekatku.
“Sudah punya pacar?” tanyaku dengan suara lirih.
“Belum.” jawabnya dengan suara yang tidak kalah kecil.
“Ganteng, tinggi, bapaknya berduit pula, kok belum punya?”
“Belum ada yang kena.”
“Ooo.” Aku kembali menatapnya lekat. Diam-diam, kucari sosok suamiku di dalam dirinya.
Hari-hari berikutnya dia terasa semakin terbuka padaku. Memang, kulihat dia masih canggung melihat beberapa kebiasaanku: memaki-maki pembantu, mengepulkan asap rokok sebelum sarapan, memakai pakaian seksi, dan selalu uring-uringan. Tapi biarlah kubiarkan dia membiasakan diri dengan kebiasaanku. Dia sempat melempar pertanyaan lucu seputar usiaku. Menurutnya, rupaku tidak seperti layaknya wanita-wanita tiga puluh tahun lainnya. Aku tertawa kecil mendengarnya. Pujian serupa memang sering kudapatkan, terutama dari lelaki-lelaki hidung belang di tempatku bekerja yang selalu kutolak mentah-mentah ajakan makannya. Bedanya, pujian dari putrakku mampu menimbulkan semacam perasaan hangat di dadaku. Kuakui, kedatangannya seakan mampu memantik kembali rona masa mudaku yang rasanya tak mungkin kudapat lagi. Wajar saja, sudah hampir enam belas tahun hidupku tidak disinggahi lelaki.
Hari itu juga kuantar dia mendaftar di SMU terdekat. Di jalan, kusadari mata-mata penggunjing penguasa kompleks mengintaiku dari segala penjuru. Mata-mata itu memang selalu mencari-cari celah keburukanku untuk dibicarakan berjam-jam bahkan berhari-hari. Kurasa, alasan mereka—entah diakui atau tidak—menggunjingkanku murni karena mereka iri denganku. Aku ingat pernah suatu hari kutegaskan pada mereka:
“Badanku ramping karena aku sarapan dengan rokok dan wiski, bukan dengan nasi!” Ketika mendengar jawaban itu, mereka mematung dan bola mata mereka seakan-akan hendak meloncat keluar.
Begitu pula sekarang ini, bisa kupastikan berita bahwa diriku berjalan berdua dengan seorang pemuda tampan tidak dikenal akan tersebar kilat ke penjurut kompleks. Tapi, sungguh, sekarang aku sudah sangat muak dan aku tidak akan peduli lagi dengan mata-mata mereka yang selalu siap mengintaiku.
Malam harinya, ketika putraku sudah tertidur pula di kamar tamu yang sudah disulap jadi kamar pribadinya, aku menghampirinya sejenak. Aku duduk di sisi ranjang. Kututupi tubuhnya dengan selimut. Kutatapi wajahnya sejenak. Lagi-lagi, muncul perasaan hangat yang membangkitkan kembali gairah masa mudaku. Perasan itu mendesir cepat melewati nadi-nadiku. Kubaringkan tubuhku di sampingnya.
|4|
Sudah seminggu berjalan, aku dan putraku pun sudah semakin memahami tabiatku. Kuizinkan dia memanggilku dengan namaku, karena nadanya ketika memanggilku dengan kata “ibu” selalu terdengar canggung. Aku pun semakin memahami beberapa hal tentangnya. Sebenarnya, dia tidak selugu dan sepolos yang terlihat. Terbukti ketika dua hari yang lalu dia mengagetkanku dengan menanyakan izin merokok. Tentu kuizinkan. Aku tidak melihat salahnya. Justru kami berbagi puntung rokok bersama. Kami mengecup bekas bibir masing-masing yang tercetak di filter rokok. Atau ketika dia kudapati tengah diam-diam menyaksikan vidio porno di telepon genggamnya. Wajahnya memerah ketika tertangkap basah. Aku hanya tersenyum kecil melihat bercak basah di celananya.
Namun, semakin aku mengenal putraku, semakin hebat aliran gairah mendesir kembali di sekujur tubuhku. Ketika dia menatapku, yang kurasa bukanlah tatapan seorang anak, melainkan tatapan seorang pemuda. Begitu pula nada biacaranya padaku. Di saat yang bersamaan, kurasakan juga rasa bersalah mengalir sama cepatnya dengan gairah.
Sore ini, kudapati putraku baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya sehelai handuk membalut bagian bawah tubuhnya. Desiran gairah dan rasa bersalah itu pun muncul lagi. Lebih-lebih ketika dia menatapku dengan tatapan lelaki. Tapi aku harus memilih. Kuputuskan untuk memilih.
Aku harus memilih.
“Mengertilah Anakku! Mengertilah betapa besar rasa sayangku padamu!”
Kulihat dia terdiam.
“Kamu harus pergi, Nak.”
Kutundukkan kepalaku. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertingkah sesentimentil ini. Dia mendekatiku. Mendekapku. Menegakkan kepalaku dengan kedua tangannya. Dia melayangkan kecupan hangat di pipiku. Di saat itu juga gairah mendesir semakin kuat mengalahkan rasa bersalahku. Dia melayangkan kecupan lagi di pipiku. Lalu merambat ke bibirku. Kuterima kecupannya. Disaksikan sinar lampu kami pun bercumbu.
Di akhir adegan dia membisikkan kata halus di telingaku:
“Aku cinta Ibu.”
|5|
Sejak saat itu, tidak ada batasan lagi yang terasa dari hubunganku dengan putraku. Berciuman sepulang kerja sudah menjadi rutinitas kami. Bahkan, malam harinya, kami melanjutkan kemesraan di tempat tidur layaknya sepasang kekasih. Ya, kami kekasih, sekalipun tidak ada pengikraran yang resmi. Bahkan, tidak jarang pembantu mendapati kami keluar berdua dari kamar hanya berbalut pakaian dalam. Wajahnya selalu tercengang. Tapi aku tahu dia tidak akan berani komentar macam-macam.
Namun, rasa bersalah ternyata tidak bisa mati begitu saja. Rasa bersalah masih tetap kurasakan menyelinap di bilik-bilik jantungku menunggu waktu yang tepat untuk menikamku. Rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi ketika aku tanpa sengaja mendengar gunjingan-gunjingan tentang hubunganku dengan putraku. Gunjingan-gunjingan itu selalu dibumbui kata-kata tidak sedap tentang diriku. Dan cara mereka menatapku seakan-akan menunjuk bahwa aku seorang makhluk hina dan menjijikkan.
Rasa bersalah telah telak menyerang sisi vitalku pagi tadi. Salah seorang rekan kerja yang sempat tergila-gila padaku melayangkan sebuah kalimat yang membuatku harus melempar tamparan ke pipinya.
“Anakkmu gigolo ya?”
Aku bergegas pulang. Aku tidak bisa menahan tatapan-tatapan yang memandangku rendah. Kalimat itu meyakinkan betapa aku telah merusak anakku sendiri. Kubayangkan ketidakwarasan yang mungkin terjadi bila hubungan tidak sehat ini terus berlanjut. Kubayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa menimpa putraku di masa depan nanti.
Mataku mulai sayup. Botol obat tidur yang sudah kosong menggelinding dari tanganku. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, kubaca kembali surat yang telah kutulis sebelumnya.
“Ini semua kesalahanku, bukan putraku. Aku yang menekannya untuk melakukan semua itu. Aku yang memaksanya.”
Perlahan-lahan cahaya mulai redup dari penglihatanku. Kulakukan semua ini demi menyelamatkanmu, Anakku. Labels: Novel
Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati (sahabat) tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk berterima kasih padanya.
Karena ialah yang membantu mengubah hidupmu
Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Tersenyumlah dengan wajar .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang cinta
Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.
Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.
Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu
Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan
Dan Saat engkau bertemu seseorang yang saat ini menemanimu seumur hidup (suami / istri) kita,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati yang kau cari.
Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu………..????
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda……
Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi………
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak………
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini……
Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang……
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari……mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar………….
Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu………
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu………..????
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita……
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita……
Usia kitapun beranjak perlahan……
Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah……???
Setiap pagi, Bunda selalu memandikan kita,………menyuapi kita………mengantar kita dan menunggui kita……
Bunda begitu sabar mengiringi hari kita di sekolah……
Dan kita hanya bermain ketika itu……
Lalu ketika kita beranjak remaja………
Bundapun tak henti untuk menghawatirkan kita……
Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan……
Bunda hanya menatap dengan penuh cemas……
Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana……
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri………
Sering bunda membelikan kita baju, sepatu, celana baru………
Dengan harapan kita akan merasa senang……
Ingatkah pula apa kata kita ketika itu………..
“Ah….bajunya udah kuno gak mau ah” bunda ‘nggak tau selera anak muda…
dan bunda hanya tersenyum saja……
Saat kita mengenal cinta akan sesama………
Sering kita membohongi bunda hanya untuk bercinta semata……
Dan bundapun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita……
Ketika bunda bilang………”Nak…….mestinya kamu sekolah dulu yang benar….jangan dulu berpacaran….””
Lantas kita hanya menjawab ”bu, saya udah gede, saya tau apa yg baik buat saya, ibu jangan terlalu mengatur saya dong!!”
Bunda hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang…
Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…
Bunda dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit…
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa……
Ketika kita butuh uang utk menuntaskan hasrat cinta muda kita……
Sekali lagi kita sering membohongi bunda……
dengan mengatakan….”bu……saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….seki
Lalu bunda bilang………….”nak…….apa tidak bisa di cicil…??
Kita dengan segera menjawab…..”gak bisa bu….harus sekali bayar……..”
Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak bunda ketika itu……
Jika saja bunda tahu bahwa itu hanyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja…
Dan ternyata bunda selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita.
Pada saat kita lulus kuliah………
Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya bunda mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia bunda ketika itu
Lalu tak lama setelah itu……tiba-taba….
“Bu….sekarang saya sudah dewasa……saya ingin menikahi si anu……….karena saya mencintai dia………boleh kan bu……..?”
Mungkin bunda akan bilang ; ”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah”
Lalu apa jawab kita; ”Bu! kalo ibu percaya, .saya sanggup untuk memberikan makan dia tanpa ibu kasih, saya harap ibu tidak melarang niat saya untuk menikah sekarang, saya sudah dewasa bu, bukan anak kecil yang segalanya harus ibu perhatikan!! !”
Dan demi kasih sayangnya terhadap kita, maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita, sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti.
Tak berapa lama setelah itu, kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda.
Pada saat bunda sudah memasuki hari tuanya, kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya.
Dan bunda tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena bunda pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri.
Bertahun-tahun kita meninggalkan bunda dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia, itupun pada saat Hari Raya saja.
Lalu, ketika Bunda sakit di hari tuanya,
Mungkin bunda mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia.
Tapi, sering kita mengabaikan harapan bunda……
Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu, .maka dengan tanpa ragu lagi kita antarkan bunda pada sebuah panti jompo, kita tinggalkan bunda dengan segala harapannya terhadap kita.
Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia, kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita.
Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa bunda telah tiada.
Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini.
Ada sesal mungkin di sana, .sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita.
Dan kitapun hanya meratapi kepergian bunda, ya bunda yang sudah mencetak kita dengan segenap kasih sayang bunda yang tak terperi ketulusannya, sesal yang tiada guna ketika kita tahu bunda pergi bersama setitik harapan bunda bahwa dia ingin anaknya ada ketika hembusan nafasnya yang terakhir memutuskan kehidupannya.
Dan kita hanya terpekur menatap bekunya batu nisan bertahtakan nama bunda. Itupun jika masih ada secuil nurani kita yang masih berwarna putih.
Kutuliskan ini, untuk mengenang bahwa bunda adalah pembawa syurga buat anaknya, mungkin ini tak semua benar, tapi tak mustahil ini terjadi dan ada di dunia ini.
Bunda, .aku menyayangi bunda seperti aku menyayangi syurgaNYA.
Maafkan anakmu ya bunda.
Peluk cium anakmu selalu.
Pertama baca yg prtma krasa adlh pnyesalan yg luar biasa besar atas smua dosa yg prnah ak lakukan slama ini kpada manusia plg brharga d dunia ini,Ibuku. Utk saat ini bundaku Alhamdulillah msh sehat wal'afiat, smga renungan ini brmanfaat utk siapapun yg membacanya utk sllu mnjdi anak yg brbakti pada org tuanya, smoga rahmat dan hidayahNya sll dipancarkan utk kita smua Amin....
BERLIN - Sekumpulan tiga tukang kayu Jerman yang diketuai Gerhard Mordhorst bersama rakannya, Gesellse Splettstößer dan Manfred Kolax mencipta sebuah rumah terbalik seberat 40 tan dekat sini, lapor sebuah akhbar semalam.
Kediaman unik itu dicipta untuk sebuah zoo tempatan di Gettorf, 308 kilometer dari sini dengan mengandungi sebuah dapur, bilik mandi, bilik tidur dan ruang tamu yang disusun secara terbalik.
Bangunan kayu tersebut mencapai ketinggian lebih tujuh meter dan mengambil masa berbulan-bulan untuk disiapkan sebelum dibuka secara rasmi kepada orang awam pada 30 Mac ini.
Rumah itu mirip kisah daripada sebuah buku cerita kanak-kanak terkenal The Twits karya penulis British, Roald Dahl.
Antara kelengkapan dalam rumah itu ialah katil, ketuhar gelombang mikro dan lukisan.
Perabot paling berat ialah almari pakaian yang mencecah 45 kilogram.
![]()
Satu lagi pembuktian kekuasaan Tuhan yang menjadikan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin seperti halnya api yang menyala di dasar laut ini. Baru-baru ini muncul sebuah fenomena yaitu terjadi retakan di dasar lautan yang mengeluarkan lava, dan lava ini menyebabkan air mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat Celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa tingginya, ia tidak bisa membuat air laut menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah luah, ia tidak bisa memadamkan api. Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik ini. Firman-Nya:
artinya : ada laut yang di dalam tanahnya ada api.
“Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan.”
وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ (٦)
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu [Al Qur’an] menurut kemauan hawa nafsunya. (3)Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan [kepadanya], (4) yang diajarkan kepadanya oleh [Jibril] yang sangat kuat, (5) Yang mempunyai akal yang cerdas; dan [Jibril itu] menampakkan diri dengan rupa yang asli, (6) sedang dia berada di ufuk yang tinggi. (7) Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, (8)maka jadilah dia dekat [pada Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat [lagi]. (9) Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya [Muhammad] apa yang telah Allah wahyukan. (10)” (QS. An-Najm (53):3-10)
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

aku selalu berkata aku akan tahu di mana tempat untuk menemukan cinta,
aku selalu berpikir aku akan siap dan cukup kuat,
tetapi beberapa kali aku hanya merasa aku dapat menyerah.
tapi kamu datang dan kamu mengubah seluruh duniaku.
aku merasa sedang berada di suatu tempat, yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. sekarang aku tau, apa artinya cinta.
hal ini sangat luar biasa,
dan aku tidak ingin membiarkannya pergi,
sesuatu yang begitu indah,
mengalir turun seperti air terjun.
aku merasa kau selalu…
selamanya menjadi bagian dari diriku.
dan sangat sulit dipercaya akhirnya aku jatuh cinta,
aku merasa sedang berada di suatu tempat,
dan aku tidak pernah berpikir aku akan merasakan ini..
dalam hatiku, di kepalaku, begitu jelas sekarang,
pegang tanganku, kau tak perlu takut sekarang,
aku tersesat dan kau telah menyelamatkan aku dengan berbagai cara
aku masih hidup, aku cinta kamu, dan kamu telah melengkapi hidupku,
dan aku belum pernah ke sini sebelumnya.
sekarang aku tau, apa artinya cinta
ketika aku berpikir tentang apa yang aku miliki,
dan aku hampir kehilangan kesempatan ini
aku tidak bisa untuk tidak hancur, dan menangis.
ya hancur dan menangis
sekarang aku tau, apa artinya cinta..
cinta itu kamu, Ray...

tidak bisa menyentuh
tidak bisa menahan
tidak dapat bersama-sama
tidak bisa mencintai
tidak dapat mencium
tidak dapat saling memiliki
harus kuat, dan kita harus saling melepaskan
tidak dapat mengatakan tentang hati yang kita tahu.
bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu?
apa yang harus kukatakan tentang isi hatiku?
kapan aku tidak ingin kau di sini dalam pelukanku?
bagaimana seseorang bisa jauh dari semua kenangan?
bagaimana aku tidak rindu padamu saat kamu pergi?
tidak bisa bermimpi
tidak bisa berbagi kenangan yang manis dan lembut
tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan
harus berpura-pura bahwa itu telah berakhir
harus berani, dan kita harus berpisah
harus tidak mengatakan apa yang kita tahu selama ini tentang perasaan kita.
bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu?
apa yang harus kukatakan tentang isi hatiku?
kapan aku tidak ingin kau di sini dalam pelukanku?
bagaimana seseorang bisa jauh dari semua kenangan?
bagaimana aku tidak rindu padamu saat kamu pergi?
bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu ketika kamu pergi?
Aku sangat bosan berada di sini,
Ditekan oleh rasa kekanak-kanakanku, yang membuatku takut.
Dan jika kamu harus pergi, aku berharap bahwa kamu hanya akan ‘meninggalkan’
Kehadiranmu di sini masih belum terpecahkan, dan aku tidak ingin kau meninggalkan aku sendirian.
Luka-luka ini sepertinya tidak akan sembuh, rasa sakit ini terlalu nyata.
Terlalu banyak waktu yang terlewati dan itu tidak bisa menghapusnya.
Ketika kamu menangis, aku akan menghapus semua air matamu.
Ketika kamu akan berteriak, aku akan melawan segala ketakutanmu.
Dan aku akan selalu memegang tanganmu untuk melalui semuanya tahun ini.
Tapi kamu masih memiliki semua yang ada padaku.
Kamu gunakan cahaya beresonansi untuk memikatku.
Sekarang, aku terikat oleh kehidupan yang kamu tinggalkan.
Wajahmu menghantui aku setiap mimpi, menyenangkan sekali.
Suaramu mengusir semua kewarasan dalam diriku.
Aku sudah berusaha keras untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kau sudah pergi
Meskipun kamu masih bersamaku saat ini, tapi aku telah merasa aku telah sendiri..
Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua.
Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah "sungai" di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.


Namun pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, namun nampak seperti sungai... luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT.

Breathe you out
Breathe you in
You keep coming back to tell me you’re the one who could have been and my eyes see it all so clear
It was long ago and far away but it never disappears
I try to put it in the past Hold on to myself and don’t look back
I don’t wanna dream about
All the things that never were
Maybe I can live without...
When I’m out from under
I don’t wanna feel the pain
What good would it do me now
I’ll get it all figured out
When I’m out from under
So let me go
Just let me fly away
Let me feel the space between us growing deeper
And much darker every day
Watch me now and I’ll be someone new
My heart will be unbroken
It will open up for everyone but you
Even when I cross the line
It's like a lie I’ve told a thousand times
I don’t wanna dream about
All the things that never were
Maybe I can live without...
When I’m out from under
I don’t wanna feel the pain
What good would it do me now
I’ll get it all figured out
When I’m out from under
And part of me still believes
When you say you’re gonna stick around
And part of me still believes
We can find a way to work it out
But I know that we tried everything we could try
So let's just say goodbye
Forever
I don’t wanna dream about
All the things that never were
Maybe I can live without...
When I’m out from under
I don’t wanna feel the pain
What good would it do me now
I’ll get it all figured out
When I’m out from under.....
hari ini gw terinspirasi bwt bikin FB baru,
account ber-2.. hehehe
sayang bgt ma bee..
Luph u bee..
hehehehe ini teh pgn cepet"..
Liat kan?? segala'y utk ber-2..
Luph u more.
oia.. add yach bee.raymond@gmail.com (Ray Untuk Bee Selamanya)
Trimz..

“Ray jahat...!!” teriak Bee saat tangan cowok bandel itu menarik kuncir rambutnya. Sementara, Ray sudah kabur, sambil tertawa ngakak, meninggalkan Bee yang memberengut kesal. Murid-murid lain yang ada di lorong, hanya geleng-geleng kepala saat melihatnya. Kejadian seperti itu sudah biasa bagi mereka. Tidak pagi, saat istirahat, ataupun saat pulang, kedua orang itu selalu bertengkar. Bee sebenarnya tidak habis pikir kenapa cowok itu seneng banget bikin dia sewot.
Ray. Cowok itu dikenalnya saat dia duduk di bangku kelas tiga SMP. Sementara, Bee sudah duduk di kelas dua SMA. Ray teman maen basket Leo, kakak kandung Bee. Sebenarnya, Bee hanya pernah bertemu Ray sekali. Tapi, nama Ray selalu disebut-sebut Leo sebagai sahabat terbaiknya. Hingga tragedi itu terjadi. Leo mengalami kecelakaan mobil. Setelah empat hari dirawat di rumah sakit, ia pun meninggal. Waktu itu sekitar enam bulan sebelum Bee lulus SMP. Dan sejak itu, ia tidak pernah mendengar nama Ray lagi. Saat itu, ia begitu terpukul dengan kematian kakak kandung satu-satunya itu. Bee berubah menjadi pemurung. Dunianya hanya sekolah dan kamar tidur. Orangtuanya sampai khawatir dibuatnya.
Lalu, masa sebagai murid baru SMU pun tiba. Namun, di tengah kehebohan teman-teman barunya, Bee tetap menjadi gadis pemurung. Hingga suatu hari....
“Hai.. Kamu Bee, kan? Masih ingat aku? Ray, teman maen basket kakakmu. Sorry baru tahu kalo kamu jadi adik kelasku. Habis kamu kecil, sih, jadi nggak kelihatan. Kalau perlu apa-apa, jangan sungkan minta tolong, ya. Ok!”
Lalu sekejap cowok itu sudah berlalu meninggalkan Bee yang terbengong-bengong kaget. Otaknya masih berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan wajah yang muncul seperti hantu. Sekejap datang dan sebentar kemudian hilang. Setelah itu, kehebohan pun terjadi di kelasnya.
Teman-temannya, terutama yang cewek, langsung menyergapnya dengan berbagai pertanyaan. Siapa? Kenalin, dong! Cakep banget! Gimana bisa kenal? Dan masih banyak lagi. Maklum aja, anak baru sudah dikenal kakak kelas, cakep lagi, siapa yang nggak penasaran. Dan, sejak itulah hari-hari Bee selalu dibayangi segala keisengan Ray. Namun, Bee tak bisa benar-benar marah padanya. Karena, ia sadar polah bandel Ray-lah yang telah mengubahnya menjadi Bee yang dulu lagi. Bee yang manis dan ceria.
Jam istirahat. Bee tampak termenung sendirian di kelas. Di tangannya ada selembar brosur tentang audisi pencarian bakat penyiar radio di kotanya.
Sesekali dihembuskan napas pendek. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, ia tidak menyadari, Ray sudah berdiri di sampingnya sambil senyum-senyum. “Melamun, Non?” sapa Ray pelan. “Hiahh!!” teriak Bee kaget, “Eh, Dodol! Kira-kira, dong! Jantung aku bisa copot tau,” seru Bee. “Eh, Bakpaw! Makanya jangan ngelamun aja!” bales Ray enggak mau kalah. “Suka-suka! Mo ngelamun, kek! Mo ketawa, kek! Mo nangis, kek! Terserah, dong! Kenapa kamu yang repot?” sahut Bee makin sewot. “Lagi mikirin aku, ya?” ujar Ray dengan seringai jahil tanpa memedulikan Bee yang mulai naek darah. “Eeenak aja! Emangnya kamu siapa?” sahut Bee sambil tetap berusaha menahan diri. “Kalo gitu pasti cowok laen, pacar? Ehm... bener juga, sih! Cewek bandel kayak kamu seharusnya memang punya pacar. Jadi, ada yang ngasih nasihat kalo lagi kumat.” Ray nyerocos tanpa peduli Bee yang sudah mau meledak saking jengkelnya.
“Ok, deh! Ray bantuin, ditanggung sebentar lagi kamu bakal dapat pacar. Gimana? Setuju?” Kali ini mimik wajahnya dibuat serius. “Enggak butuh!” seru Bee setengah berteriak sambil melangkah keluar kelas, meninggalkan Ray yang lagi ketawa terbahak-bahak, sendirian. Saat itu, mata Ray tertuju pada kertas yang ditinggalkan Bee. Ia tersenyum, ada sesuatu muncul di kepalanya. Pagi ini sarapan dalam perut Bee langsung hilang hanya untuk menahan emosi. Di hadapannya terpampang besar sebuah kertas pengumuman di samping mading sekolah:
DICARI!!! Seorang cowok yang mau menjadi pacar Lidya Bee, dengan kriteria: Sanggup jalan sama cewek bandel, manja, tulalit, dan gampang marah. Bagi yang berminat, silakan berhubungan langsung dengan Bee NOTE: MOHON CEPAT! CEWEK INI SUDAH HAMPIR BUNUH DIRI KARENA DEPRESI.
Selesai membacanya, Bee langsung mencak-mencak. Matanya sibuk mencari Ray. “Awas kalo ketemu,” desisnya. Dan saat masuk ke kelasnya, Ray tampak duduk di bangkunya sambil senyum-senyum. Saat keduanya sudah berhadapan, belum sempat Bee membuka mulutnya, sebuah amplop diserahkan Ray ke tangannya. “Ini tanda peserta untuk audisi penyiar, awas kalo sampai nggak datang. Aku sudah rela antri berjam-jam dan keluar duit buat ngedaftarin kamu. Ok!” Lalu secepat kilat kabur meninggalkan Bee yang kebingungan. Bingung karena enggak jadi marah dan bingung soal tanda peserta di tangannya. “Dari mana dia tahu?” tanya Bee dalam hati sambil garuk-garuk kepala. Hari itu tiba. Sebenarnya, Bee enggan mengikuti audisi itu karena dia merasa kurang percaya diri.
Namun, Ray yang datang menjemput, dengan alasan tidak rela duitnya terbuang sia-sia, berhasil memaksa Bee untuk berangkat. Ray hanya memberinya dua pilihan, digendong paksa untuk ikut atau jalan sendiri walau juga terpaksa. Dan yang bikin Bee dongkol, mama dan papanya hanya senyum-senyum, seperti mengamini kelakuan Ray. Di sinilah dia akhirnya, berjajar menunggu giliran bersama puluhan peserta yang lain. Sementara Ray menunggu di kejauhan sambil sesekali menyeringai bandel. Sepertinya, dia mau bilang, “Mampus kau”, sambil tertawa senang. Audisi berjalan sampai malam. Ditemani Ray, Bee menunggu pengumuman keluar. Pukul 23.00, hasil itu pun keluar. Bee dan Ray sibuk mengamati dari atas ke bawah berulang-ulang lima nama yang ada, tapi tetap saja nama Bee tak muncul secara ajaib di sana. “Tuh, kan! Sudah dibilang apa? Pasti gagal!” ujar Bee. Ray tersenyum,“Yang penting kan sudah dicoba. Itung-itung buat pengalaman.”
Kali ini suara Ray terdengar tulus menghiburnya. Bee sejenak terdiam. Baru kali ini, dia mendengar Ray bicara dengan nada seperti itu. Diamatinya Ray. Sebenarnya, ada sesuatu yang sejak tadi ingin ditanyakannya. Dan ia perlu tahu sekarang. “Ray!” panggil Bee. “Hm...,” sahut Ray pendek. “Boleh tanya nggak?” “Tanya apa?” “Kenapa kamu semangat banget maksa aku ikut audisi?” Tak ada jawaban.
“Jangan sampai kamu bilang, kamu jatuh cinta sama aku!” ancam Bee. Sejenak Ray tertawa kecil, “Ini semua karena kakakmu.” Bee mengernyitkan kening, “Maksud kamu?” ia bertanya tak mengerti. “Sebelum meninggal, Leo pernah ngomong kalo sampai dia mati, dia bakal meninggalkan seorang adik kecil manis yang menyayanginya. Dia enggak mau, adiknya menjadi dan tak pernah terbang mencapai mimpi dan cita-citanya.
So, di sinilah aku, sesuai janji yang aku buat. Aku akan menjadi sayap untuk membawamu terbang ke angkasa mimpimu, sampai kamu kuat dan berani untuk terbang sendiri. Walaupun harus kuakui repot juga ngurus adik yang bandelnya setengah mati.”
Bee tertegun. Dipandanginya Ray lebih lekat. Ada sebuah rasa yang begitu besar merayap naik ke hatinya. Rasa sayang kepada sosok di depannya, yang telah berjuang mengganti sosok lain yang telah pergi dari hidupnya. “Makasih, Kak...,” ucap Bee dengan mata basah. “Eh, kok nangis? Sudah, dong! Malu dilihat orang.” Bee tak peduli, dipeluknya Ray. Sebuah bisik lirih keluar dari mulutnya, “Terima kasih sudah menjadi sayap untukku. Bee janji untuk mulai belajar terbang.”
Bee mendongak, dipandanginya bintang-bintang di langit. Wajah Leo tergambar di sana, “Terima kasih, Kak! Sudah memberikanku sayap yang begitu kuat...,” bisik Bee dalam hati.

